Kepada Jawa Pos Radar Tuban, Yayan membenarkan terkait kedua hasil karyanya yang diduga dicuplik Pertamina tersebut. ‘’Setelah saya pelajari secara keseluruhan, saya melihat sebagian video (iklan Pertamina, Red) itu sama persis dengan video yang kami buat,’’ ujarnya.

Terkait dugaan kompilasi yang dilakukan Pertamina, Yayan sangat menyesalkan. Terlebih, itu dilakukan tanpa izinnya. Juga tanpa menyertakan sumbernya. Padahal, video tersebut dibuat dengan kerja keras. ‘’Sekelas Pertamina, seharusnya hal seperti ini (dugaan kompilasi, Red) tidak terjadi,’’ keluhnya.

PELANGGARAN HAK CIPTA: Potong video Pertamina yang mengkompilasi video milik DPMPTS Naker Tuban.
(Istimewa/Jawa Pos Radar Tuban)

Disinggung terkait langkah lebih lanjut yang bakal ditempuh terkait pembajakan hak cipta tersebut, Yayan mengaku belum memiliki rencana apa pun. ‘’Sebagai seniman film, kami sangat menyesalkan,’’ tandasnya.

Senada disampaikan Sekretaris DPMPTSP Naker Tuban Soni Kurniawan. Dia menyatakan, tidak pernah diajak  komunikasi dengan Pertamina terkait rencana pembuatan video tersebut. 

Menurut Soni, semestinya pihak Pertamina berkomunikasi terlebih dahulu sebelum mencuplik video tersebut. ‘’Paling tidak, secara etika kulo nuwun (pamit, Red) dulu,’’ tuturnya.

Kalaupun tanpa meminta izin, lanjut Soni, sumber video yang dicuplik harus disertakan. ‘’Skripsi saja harus menyertakan referensi (sumber tulisan, Red),’’ kata dia  menganalogikan kasus dugaan kompilasi Pertamina dengan pembuatan skripsi.

Area Manager Communication and Relation Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Rifky Rahman Yusuf belum bisa dikonfirmasi terkait persoalan video iklan Pertamina tersebut. Ponselnya yang berkali-kali dihubungi tak diangkat.

Pertanyaan yang dikirim wartawan koran ini melalui pesan WhatsApp juga tak dibaca.

(bj/yqn/tok/ds/yqn/JPR)

Source link