Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro menuju ke waduk itu. Tiket masuknya Rp 6.000. Tak ada fasilitas hiburan yang cukup memadai. Sebab, tempat nongkrong pun hanyalah sebuah warung yang didirikan di sekitar waduk. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Amir Syahid mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk pengembangan wisata Waduk Pacal. Sebab, ada dua instansi yang harus dikoordinasikan. Yakni KPH Perhutani Bojonegoro dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, yang kantornya berada di Sukoharjo Jawa Tengah. “Jadi kami masih perlu koordinasi untuk penataan destinasi wisata di sana,” kata dia. 

Amir mengakui, di Waduk Pacal pengunjungnya cukup lumayan. Sehingga, bisa menjadi potensi wisata alam di Bojonegoro. Sehingga, penataan akan segera dilakukan. Salah satunya dengan melakukan pembangunan di pintu masuk yang di dekat jalur Bojonegoro-Nganjuk itu. 

Sebab, pintu gerbang tempat wisata ini kurang layak jual. Sehingga, terkesan tidak terjadi perawatan terhadap pintu masuknya. “Nanti rencananya kita bangun. Biar ada tempat untuk spot foto,” kata dia. 

Amir melanjutkan, tak hanya gapura di depan saja. Bila nanti koordinasi telah dilakukan dan menemukan titik kesepakatan, banyak hal yang akan dikembangkan oleh pemkab melalui dinas pariwisata. Harapannya, bisa memberikan tempat wisata alternatif bagi masyarakat. Selain itu, tidak menghilangkan fungsi waduk sebagai tempat penyaluran irigasi saat musim kemarau. 

Waduk yang dibangun pada 1927 oleh kolonial itu, sekarang ini menjadi tempat penyimpanan air yang kapasitasnya bisa mencapai 20 juta meter kubik. Dari waduk ini, bisa mengairi delapan kecamatan dengan luas lahan keseluruhannya sekitar 16.688 hektare.

(bj/aam/nas/faa/JPR)

Source link