Miskadin, salah seorang warga setempat menuturkan, hanya Pasirindo yang hingga tenggat akhir pelunasan, Selasa (5/6), yang sudah melunasi CSR. Sementara tiga perusahaan tambang lainnya belum memberi kejelasan hingga dua hari pasca tenggat pembayaran. Warga menilai bahwa tiga perusahaan tersebut sudah tidak sanggup melunasi utang CSR yang nilainya tembus ratusan juta itu.

 “Makanya, warga memutuskan ketiga perusahaan itu untuk tidak melewati Jalan Jugosari lagi, hingga batas waktu yang tidak ditentukan,” terang Miskadin. Tak ayal, hingga siang kemarin (7/6), hanya truk Pasirindo saja yang melintas. Kondisi sudah cenderung kondusif dibanding sehari sebelumnya. 

Namun, sejumlah warga tampak masih berjaga di pertigaan arah Jarit dan Candipuro. Mereka ingin memastikan truk yang melintas bukanlah truk tiga perusahaan tambang yang belum melunasi utang CSR mereka. 

Selain truk Pasirindo, saat ini sebenarnya ada satu lagi truk milik perusahaan tambang lain yang kerap melintasi Jalan Jugosari. Namun, warga tidak mempermasalahkan, lantaran perusahaan tambangnya berada di desa lain. “Ada satu lagi yang biasa lewat sini, tapi perusahaan itu ada di Wilayah Gondoruso,” imbuh Miskadin. 

Di samping melarang truk dari tiga perusahaan tambang pasir untuk melintas, gejolak yang terjadi pada Rabu (6/6) juga membuat Badan Pengelola CSR dibubarkan. Warga menilai wadah itu tidak transparan lagi. Sejak pasca Badan Pengelola dibubarkan, Rabu malam (6/6), dana CSR dari perusahaan tambang pada warga dilewatkan melalui Kantor Desa Jugosari. 

(jr/was/aro/das/JPR)

Source link