Matahari seolah berada di atas kepala sekitar pukul 13.00, kemarin. Panasnya terasa menyengat. Pun di teras salah satu minimarket di Jl A. Yani, Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom yang beratapkan fiber.

Dengan butir-butir keringat di pipinya, seorang perempuan tua terlihat beberapa kali meraba belasan sisir pisang yang ada di depannya. Cuaca panas kemarin siang tak membuat perempuan berjilbab oranye itu beranjak.

Dia terus duduk lesehan sembari menunggui dagangannya. Ada dua jenis pisang yang dijual oleh perempuan yang tak lain adalah Yatemi itu. Yaitu, pisang kepok dan raja Jambi.    

Saat ada pembeli yang datang, penyandang tunanetra itu dengan luwes langsung menawarkan dagangannya. “Monggo, Mas. Wonten pisang kepok kalih pisang raja (Silakan. Ada pisang kepok dan pisang raja, Red),” katanya.

Untuk menunjukkan pisang yang dimaksud, perempuan berusia 72 tahun itu lebih dulu meraba deretan pisang yang ada di depannya. Begitu menyentuh pisang yang berbentuk agak gepeng, dia langsung mengambilnya sembari menyebut jika itu merupakan pisang kepok. “Niki (pisang kepok, Red) Rp 15 ribu. Lek pisang raja Rp 10 ribu,” lanjutnya menawarkan.   

Tanpa menawar, pria berkaus hitam itu langsung membeli beberapa sisir pisang kepok dan pisang raja. Mengetahui jika penjualnya tak bisa melihat, pria bertubuh kurus itu memberikan uang yang pas.

Seolah percaya, dan memang tidak mungkin menghitung kembali, Yatemi langsung memasukkan uang yang diterimanya ke dalam dompet. Yatemi bersyukur, selama berjualan di   teras minimarket itu, dia sering bertemu dengan orang yang jujur.

Karenanya, meski tidak bisa melihat, dia tetap mendapat uang sesuai dengan harga pisang yang dijualnya. Hal itu diketahui setelah perempuan yang tinggal di dekat Stadion Warujayeng ini menghitung uang hasil penjualan pisang bersama keponakannya.

Meski demikian, suatu kali Yatemi juga pernah tertipu. Ceritanya, saat itu dia didatangi oleh pria tak dikenal yang mengajaknya berjualan di tepi jalan. Alasannya, agar pisang dagangannya cepat laku.

Tergiur dengan penawaran orang tersebut, Yatemi menurut saja diajak pindah dari teras minimarket tempatnya berjualan sekarang. “Ternyata semua pisang saya dibawa kabur,” kenangnya sedih.

Tak mau terus mengingat musibah yang dialaminya, Yatemi memutuskan untuk kembali berjualan. Setiap pukul 06.00 dia diantar Yayuk, keponakannya, ke teras minimarket Warujayeng.

Berjualan hingga pukul 16.00, Yatemi membawa 15 sisir pisang. Biasanya, dia bisa mendapat uang antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Dari jumlah tersebut, Yatemi mendapat upah Rp 20 ribu per hari. Sebab, pisang yang dijual itu bukanlah miliknya sendiri. Melainkan milik sang keponakan.

Meski hanya mendapat sedikit uang, Yatemi mengaku senang. Setidaknya, di usia tuanya dia tidak meminta-minta. Apalagi, dengan kondisi matanya yang tidak bisa melihat seperti sekarang.

Sebenarnya, Yatemi tidak menderita tunanetra sejak kecil. Dia tidak bisa melihat sejak empat tahun yang lalu. Penyakit mata yang belum diketahui jenisnya hingga kini itu memupuskan pekerjaannya sebagai pedagang keliling. “Nggih mandek. Mboten saget ningali (Ya berhenti berjualan keliling. Nggak bisa melihat, Red),” urainya.

Dengan segala keterbatasannya itu, Yatemi mengaku bersyukur masih bisa berjualan pisang. Dia pun bertekad untuk terus berjualan di sana. Pun dengan kondisinya yang duduk bungkuk dan jalan nyaris seperti orang merayap itu.

Semua dia lakukan karena tidak ingin menjadi beban keluarga. Termasuk menjadi beban keponakannya yang tinggal tak jauh dari rumahnya itu. “Alhamdulillah diberi kesehatan,” katanya bersyukur.

(rk/rq/die/JPR)

Source link