Gubernur Jatim Soekarwo pada rapat kordinasi kemiskinan awal tahun ini mentargetkan penurunan tingkat kemiskinan menjadi 10,1 persen pada Maret 2018 dan 9,44 persen pada September 2018. Target ini merupakan penurunan yang cukup signifikan, yakni sebesar 1,76 persen, dari kondisi periode September 2017 sebesar 11,20 persen. Dengan target ini berarti kemiskinan di Jatim akan berada di bawah rata-rata kemiskinan nasional sebesar 9,62 persen. 

Hanya saja, Pakde Karwo, sapaan karib Soekarwo mengatakan, meski memiliki potensi besar di sektor zakat, namun pihaknya tidak bisa memaksakan. Sebab, masalah zakat ada pada pribadi masing-masing. “Tidak bisa. Zakat atau tidak, itu kan niat hati orang. Kalau yang punya ndak ada tidak ada Hidayah,” kata Pakde Karwo saat dikonfirmasi terkait potensi zakat belum lama ini. 

Maka dari itu, gubernur kelahiran Madiun ini pun berharap pendakwah mengetuk kesadaran untuk berzakat. “Kemudian dakwahnya bagus, orang jadi zakat semuanya numpuk. Tapi kalau nggak ya nggak bisa,” urai mantan Sekdaprov Jatim tersebut. 

Sementara itu ditemui terpisah, anggota DPRD Jatim Irwan Setiawan memiliki pandangan sendiri terkait zakat ini guna membantu mengentas kemiskinan. Menurutnya, saat ini tinggal bagaimana pemerintah bersinergi dengan tokoh-tokoh masyarakat serta lembaga-lembaga yang sudah ada. Tujuannya agar semuanya bisa terambil dan terdistribusi zakat secara keseluruhan dengan sebaik-baiknya. 

“Saya pikir potensinya luar biasa. sehingga potensi ini bisa didorong jadi satu potensi untuk melakukan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Apalagi di momentum bulan Romadan ini, ketika semangat orang Islam semakin meningkat dimanfaatkan dengan optimal mungkin,” kata politisi PKS tersebut. 

Terlepas dari itu, Baznas menyalurkan zakat ini ada 8 asnaf yang rata-rata dipayungi dengan 5 program. Yakni, program-program penduduk, pendidikan, program kesehatan, program bantuan fakir untuk biaya hidup yang lantas dikembangkan bantuan bencana recovery. “Kemudian untuk Jatim Makmur itu ada namanya bantuan modal kerja untuk pengembangan ekonomi dan yang terakhir Jatim Taqwa kepentingan dakwah,” tandas Nawawi.

(sb/bae/jek/JPR)