Sekertaris Dispendikpora Tulungagung Hariyo Dewanto mengatakan, tidak semua SMPN di Tulungagung bisa memenuhi pagu yang telah ditetapkan dinas. Sekolah belum penuhi pagu mayoritas berada di area pinggiran dan dengan jumlah kekurangan siswa berbeda-beda.

Di antara SMPN kurang dari pagu, SMPN 1 Bandung menetapkan pagu 352 siswa, diterima online 52 siswa dan diterima jalur offline 227 siswa.

TELITI : Ratusan calon peserta didik baru ketika melihat pengumuman PPDB Offline di SMPN 1 Kedungwaru Sabtu (7/7) kemarin.
(ANANIAS AYUNDA PERIMASTUTI/RATU)

“Untuk SMPN 1 Bandung kurang 73 ssiwa,” jelasnya.

Selain itu, SMPN 1 Besuki, pagu 288 siswa, diterima jalur online 43 siswa, diterima jalur offline 183 siswa, kurang 62 siswa. SMPN 1 Pagerwojo, pagu 160 siswa, diterima jalur online 20 siswa, diterima jalur offline 138 siswa, kurang 2 siswa. SMPN 1 Pakel, pagu 288 siswa, diterima jalur online 43 siswa, diterima jalur offline 232 siswa, kurang 13 siswa.

“SMPN 1 Rejotangan kurang dari pagu 320, diterima melalui jalur online 30, diterima jalur offline 267, dan kurang 23 siswa,” ujarnya.

Bagian Humas SMPN 5 Tulungagung Halimah mengakui sekolahnya kurang 116 siswa.

“Kami masih belum mampu penuhi pagu tersedia,” tuturnya.

Dia membenarkan jika SMPN 5 masih butuh calon siswa agar dapat penuhi pagu. Kemungkinan ada perpanjangan pendaftaran. Hanya saja, untuk sistem pendaftaran belum dapat informasi lebih lanjut dari dispendikpora. Jika memang pendaftaran PPDB diperpanjang, kemungkinan akan dilakukan setelah daftar ulang.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dispendikpora Tulungagung Saifudin Zuhri tak memungkiri sejumlah SMPN di Tulungagung belum penuhi pagu. Maka dinas berkoordinasi dengan sekolah-sekolah belum penuhi pagu untuk melakukan perpanjangan pendaftaran.

“Sekolah-sekolah yang belum penuhi pagu dapat memperpanjang pendaftaran sampai pagu terpenuhi,” jelasnya.

Untuk itu, sebelum tahun ajaran baru dimulai, diharapkan semua lulusan SD/MI sudah dapat sekolah.

“Akan diperpanjang hingga pagu terpenuhi. Jika tidak, sekolah akan kesulitan. Karena pengajar atau guru akan kekurangan jam belajar mengajar,” ungkapnya.

Terkait sistem pendaftaran, dia menjelaskan, sistem pendaftaran pakai offline.

“Kita akan terus koordinasi dengan sekolah-sekolah supaya calon peserta didik tidak bingung harus daftar ke mana,” pungkasnya. (yon/c2/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)