15 Anak Derita Demam Berdarah – Radar Bojonegoro

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Blora, Edi Sucipto mengatakan, banyaknya penderita DB ini karena pengaruh musim hujan, seiring banyaknya genangan air. Tentu, menyebabkan semakin berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. 

Genangan air ini, kata dia, seperti terjadi di wadah plastik, ban bekas, dan kaleng-kaleng. Menurut Edy, tempat dan genangan air itulah yang menjadikan penyebaran nyamuk tersebut semakin meluas. 

Sebab, penyebarannya bukan dari tempat kotor, seperti se­lokan. Tetapi lebih ba­nyak berada di air yang bersih dan jernih. “Karena nyamuk Aedes aegypti tidak mau menem­pati air kotor,” tegasnya.

Selain itu, masyarakat juga patut mewaspadai tempat-tempat penampungan air di dalam rumah. Seperti kamar mandi, pot bunga, dan tempat lain yang terdapat air. Antisipasi penanganannya, menurut Edi, bukan hanya menggunakan fogging (pengasapan). 

Tapi, terkait penanganannya menggunakan obat, dengan memberi obat ke genangan air tersebut. “Karena sekarang jentik nyamuk DB itu sudah termasuk mengancam,’’ ujarnya. 

Sebaliknya, jika hanya menggunakan fogging itu hanya antisipasi sesaat saja. Sedangkan, bibit nyamuk masih ada. Serta untuk efeknya juga kurang baik. Penderita DB sendiri kebanyakan adalah anak-anak. 

Dari 15 penderita DB kebanyakan dari Kecamatan Kota, Cepu, Jepon, Tunjungan, dan Bogorejo. Pende­rita DB pada 2017 lalu ada 107 jiwa. Dan, satu penderita DB meninggal dunia.

(bj/fud/rij/faa/JPR)

Source link