2 Juta Meter Kubik Material Longsor – Radar Banyuwangi

Banjir bandang yang menimpa dua dusun itu, sudah yang kali kedua dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya, perkampungan itu juga diterjang banjir pada Selasa malam (15/5). Hanya saja, banjir yang terjadi kali ini lebih parah.

Sekitar pukul 08.30, warga mengira saat air di sungai itu besar hanya me­luap saja. Sejumlah pengendara motor yang melintas di jembatan, banyak yang berhenti untuk melihat air sungai yang meluap sambil mem­bawa pepohonan itu. Bahkan, di antara warga itu sempat menga­ba­dikan momen dengan mengambil gambar. Baru 30 menit kemudian, debit air tambah tinggi dan meluber ke jalanan. Apalagi, batang pohon banyak yang menumpuk di Dam Gutrit. ”Banjir ini lebih parah,” ujar Su­gihartono, 37, warga Dusun Ba­ngunrejo, Desa Alasmalang, Ke­camatan Singojuruh.

Sugihartono menyebut, warga se­belumnya tidak menyangka debit air akan terus besar. Apalagi, air di sungai mengalir seperti bi­asanya. Sehingga, warga dan pengguna jalan turun untuk melihat derasnya air tersebut. ”Banyak yang nonton dan me­ngambil gambar,” katanya.

Baru sekitar pukul 09.00, terang dia, warga dan pengguna jalan kaget karena air sungai semakin besar hingga masuk ke kantor Pengairan Singojuruh. Tidak lama, air sungai itu terus meluap hingga jalanan dan perkampungan. ”Ke­ja­diannya begitu cepat, hanya 30 menit air sudah meluap di jalanan sepanjang satu kilometer,” ungkapnya.

Melihat air yang masuk ke jalanan, warga langsung geger dan berteriak banjir. Mereka semburat untuk menyelamatkan diri, tanpa mempedulikan barang-barang yang ada di rumahnya. ”Mereka yang bisa lari langsung menuju ke Gumuk,” ujarnya.

Selama air sungai meluap, warga yang ada di dua dusun itu pun panik. Warga yang tidak sempat lari, menyelamatkan diri dengan naik ke atap. Kendaraan seperti motor dan mobil, banyak yang te­rendam air dan lumpur. ”Ada yang naik ke atap rumah,” imbuh­nya.

Warga lainnya, Hartono mengaku banjir bandang ini berlangsung dua jam. Selama itu, puluhan ru­mah warga terendam. Jalan raya Desa Alasmalang yang meng­hubungkan Rogojampi-Genteng tergenang lumpur hingga kete­balan 30 sentimeter. ”Banjir ini membawa lumpur dan batang pohon berukuran besar,” terang lelaki 42 tahun tersebut.

Menurut Hartono, banjir ban­dang itu baru surut sekitar pukul 11.30, dengan meninggalkan lum­pur dan sampah. Dan itu membuat jalan raya ditutup. ”War­ga menutup jalan agar tidak mem­bahayakan,” ujarnya.

Hartono menyayangkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi datang terlambat. Saat air sudah surut dan material menumpuk di jalanan, petugas dan sejumlah alat berat baru didatangkan. ”Datangnya terlambat. Kalau saja saat air meluap itu ada alat berat, bisa membersihkan material yang menghalangi air tersebut,” ung­kap­nya.

Hartono menyebutkan, akibat banjir bandang sejumlah rumah milik warga dan kendaraan seperti mobil terendam lumpur. Bahkan, banyak rumah warga yang rusak akibat diterjang banjir. ”Banyak yang rumahnya rusak, tapi jumlah­nya belum pasti,” terangnya.

Kepala BPBD Banyuwangi Fajar Suasana mengaku sudah mener­junkan sejumlah anggota di lokasi untuk membantu evakuasi. Bah­kan, pihaknya juga sudah mener­junkan sejumlah alat berat ke lokasi tersebut. ”Kita masih me­lakukan proses evakuasi dengan alat berat,” katanya.

Fajar berharap warga tetap tenang dan tidak panik dengan kejadian ini. Karena banjir ban­dang ini bisa kapan saja terjadi kem­bali. Itu karena material yang ada di hulu masih menumpuk. ”Dari hasil kajian sebelumnya, memang ada dua juta meter kubik material longsor di hulu sungai Badeng,” ungkapnya.

Hingga saat ini, pihaknya masih belum mendapatkan laporan mengenai rumah yang terimbas. Sebab, anggota dan warga masih fokus melakukan evakuasi jalan yang dipenuhi lumpur. ”Belum bisa diketahui berapa jumlah ke­ru­sakan,” katanya.

(bw/rio/rbs/JPR)

Source link