Aci Tumpek Uye di Sukaluwih; Ngedumel Saat Tabuh Rah Bisa Celaka – Bali Express

Saban Tumpek Uye, aci di Pura Penyatur Desa di  Desa Adat Sukaluwih ditunggu-tunggu bebotoh tajen. Pasalnya, berkaitan dengan upacara itu digelar tajen (sabung ayam) dalam beberapa hari.
Oleh warga setempat, aci tersebut dikenal dengan Tabuh Rah Perang Sata. “Perang diartikan sebagai pertempuran, sedangkan sata artinya binatang. Kaitan dengan upacara ini, sata yang dimaksud adalah ayam,” terang Juru  Raksa Desa Adat Sukaluwih, I Wayan Suara Arsana kepada Bali  Express (Jawa Pos Group), belum lama ini.

Suara Arsana menuturkan,  aci tersebut digelar tiap enam bulan. Puncaknya tepat saat Tumpek Uye atau dikenal juga dengan Tumpek Kandang.  Aci digelar di Pura Penyatur Desa, yang jumlahnya ada empat, namun posisi berjauhan. Ada di kaja kangin, kelod kangin,  kelod kauh, dan kaja kauh.  Pelaksanaan upacara digelar secara bergilir di empat pura tersebut. Kali ini digelar di kaje kauh. Suara Arsana menegaskan, upacara itu kaitanya dengan Ida Ratu Bagus Bebotoh yang malinggih di Pura Puseh desa setempat. Saat upacara, Ida Bhatara tedun ke Pura Penyatur Desa. “Tahun ini tedun ke Pura Penyatur Desa kaja kauh. Di situ sekarang pangewiwitnya,” jelas pria yang juga Perbekel Desa Amertha Buana, dua periode itu.

Saat puncak upacara, tabuh rah biasanya digelar pagi hari di penyatur desa yang pengewiwit.  Tiga seet pertama, taruhannya tidak menggunakan uang rupiah, melainkan uang kepeng atau disebut jinah kompolan (1000 kepeng dibungkus upih). Be cundang (ayam yang kalah diadu), tidak boleh langsung diambil pemenangnya. Diolah dulu oleh krama pangarep dan dihaturkan di Pura Penyatur Desa.  “Be cundang yang dihaturkan itu, khusus untuk yang tiga seet saja. Seet berikutnya berjalan seperti tajen pada umumnya,” terang bapak dua anak itu.   Tiga seet pertama, krama setempat berlomba-lomba supaya ayamnya diadu. Setelah tiga seet itu, tabuh rah digelar di wantilan Pura Puseh, termasuk pertima Ida Bhatara tedun ke sana. Bahkan, tabuh rah itu nyejer hingga Anggara Kasih Prangbakat.  Selama pelaksaan tabuh rah, krama desa wajib uranan.  Bagi mereka yang naung (tidak ada uranan, atau  tidak dapat lawan), maka dikenakan denda Rp 50 ribu.  Meski denda terbilang kecil, namun tak terlihat ada warga sengaja memilih denda. Ratusan krama Desa Adat Sukaluwih berebut agar ayamnya bisa diadu. Begitu pula warga di luar desa, berbondong-bondong datang ke sana. “Namun, karena setiap aci banyak bebotoh  dari luar datang, ada saja ayam  krama desa tidak dapat lawan,” tegas Sekretaris Pasemetonan Jagabaya (Pasebaya) Gunung Agung, itu.

Lebih lanjut,  pihaknya menuturkan upacara tersebut erat kaitannya dengan keselamatan krama dan ternak di sana. “Kalau melihat pelaksanaannya, yakni Tumpek Uye, itu berkaitan dengan ternak atau binatang,” jelasnya. Hingga saat ini, desa setempat tak berani meniadakan upacara tersebut. “Jangankan tidak melaksanakan, ada warga dulu sempat ngedumel karena ayam kalah, malah celaka. Ada juga karena  tidak suka matajen, lantas mengatakan lebih bagus nyabit rumput tinimbang matajen,” terangnya. Namun setelah ngomong itu, lanjutnya, ternyata sapinya lepas, lalu jatuh ke jurang.

Lanjut dia, banyak cerita unik di balik pelaksanaan upacara itu. Misalnya, sempat akan ditangkap polisi karena menggelar tajen, namun ternyata angota polisi yang  datang ke sana itu mengalami kecelakaan.  “Itu dulu.  Maunya ditangkap. Tapi dijelaskan alasan menggelar tajen, dan setelah itu anggota polisi itu mengalami kecelakaan,” ujar dia.

Konon, pernah juga banyak sapi warga mati secara beruntun. “  Makanya, kami tidak berani tidak menggelar,” sambung Suara Arsana.

Bagaimana kaitan dengan aktivitas Gunung Agung? “Aci tetap digelar. Tapi karena aktivitas status gunung masih level IV (Awas), warga masih khawatir, akhirnya hanya digelar tiga seet saja,” ungkap Suara Arsana. Tiga seet itu, yakni di Pura Penyatur Desa Pengewiwit, yakni kaja kauh, dengan toh uang kompolan. “Kami sudah sempat menggelar pertemuan, sudah matur piuning karena status gunung, jadi hanya digelar tiga seet. Kalau sama sekali tidak melaksanakan, kami tidak berani,” tegas Suara Arsana. Seperti diketahui, desa adat yang secara dinas masuk Desa Amertha Buana itu berada di lingkar Gunung Agung. Warga setempat baru pulang dari pengungsian setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempersempit zona perkiraan bahaya menjadi dalam radius 6 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung. 

(bx/wan/yes/JPR)

Source link