Ada di KRB III, Andalkan Kode Alam, Kalau Mendung Langsung Kabur – Bali Express

Suasana sepi nampak terlihat di kawasan Dusun Juntal Kaja, Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Kawasan ini masuk zona merah atau berada di KRB III. Rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir jalan sudah banyak ditinggal mengungsi oleh penghuninya.

Namun di antara jejeran rumah yang sepi akibat ditinggal mengungsi, rupanya masih ada beberapa rumah yang masih dihuni pada siang hari. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa meskipun tetangga lainnya sudah pergi mengungsi.

Salah satunya adalah rumah milik Wayan Kantor. Pria berusia 73 tahun ini begitu sibuk memotong dedaunan untuk diberikan ternaknya seperti babi dan sapi di rumahnya. Ia memiliki puluhan ekor babi dan sedikitnya 8 ekor sapi.

Saat Bali Express (Jawa Pos Group) menanyakan mengapa belum mengungsi, kakek yang memiliki lima cucu, ini mengaku memang tengah mengungsi di wilayah Desa Tianyar Timur. Hanya saja Wayan Kantor bersama istrinya Nengah Tantri rutin pulang ke rumah setiap siang hari. Di sana Wayan Kantor bisa memberi pakan ternak serta memanen biji mete di kebunnya.

“Tiang tetep ngungsi. Peteng maten tiang ke pengungsian di Desa Tianyar Timur. Yen lemah tiang mulih. Sambilang maang ngamah ubuhan. Sanje tiang malih ngungsi. (Saya tetap mengungsi. Malam saja pergi ke pengungsian di Desa Tianyar Timur. Kalau siang saya pulang ke rumah. Sambil memberi makan ternak. Sore kembali mengungsi) ujarnya memulai cerita.

Sembari memotong dedaunan, Wayan Kantor berbagi kisah dengan koran ini tentang meletusnya Gunung Agung tahun 1963. Saat itu Wayan Kantor baru berusia 10 tahun. Dia pun sudah bisa mengembalakan sapi. Namun sayang, dua ekor sapi kesayangannya mati diterjang awan panas ketika terjadi letusan.

“Dugas letusan tahun 1963, tiang sube maumur 10 tiban. Be bisa ngubuh sampi. Pas letusan, sampin tiange mati dadua, kalain tiang mengungsi. Kene awan panas. Dugas to tiang ngungsi ke Tajun. (Saat letusan tahun 1963, saya baru berusia 10 tahun. Suah bisa mengembala sapi. Saat terjadi letusan, sapi saya mati dua ekor, karena ditinggal mengungsi. Terkena awan panas. Saat itu saya mengungsi ke Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Red),” jelasnya.

Meski pernah mengalami pengalaman pahit sapinya jadi korban, namun Wayan Kantor tak kapok memelihara ternak saat erupsi. Ia enggan menjual sapi-sapinya lantaran harganya terlalu murah. Wayan Kantor mengaku pasrah dan tak akan membawa sapi-sapinya ke pengungsian.

“Koh tiang ngabe. Repot. Baang be dini. Saget mati kene lahar, kudiang men. Pasrah manten. (Malas saya bawa ke pengungsian. Biarkan disini. Kalaupun mati terkena lahar, mau gimana lagi. Pasrah saja),” imbuhnya.

Dirinya juga tak menampik sering dibuat waswas akan aktivitas Gunung Agung yang sangat misterius. Wayan Kantor hanya mengandalkan kode alam. Menurutnya, jika langit mendung, itu  sebagai pertanda bahwa dia harus segera meninggalkan rumahnya menuju tempat aman.

“Asal gulem, tiang jeg melaib ke pengungsian, ajak kurenan tiange. Pidan dugas tahun 1963 masi keto. Gumine peteng lakar Gununge meletus. To mekada tiang waswas. Enggalan mengungsi tiang ajaka jak bapane ke Tajun (Setiap mendung, saya pasti lari ke pengungsian sama istri. Dulu tahun 1963 juga begitu. Suasana gelap gulita saat Gunung akan meletus. Keburu diajak ke Tajun mengungsi sama orang tua, Red),” tuturnya.

Hal serupa juga diuraikan Komang Lara, 58. Lara yang bertetangga dengan Wayan Kantor mengaku tetap beraktivitas normal saat siang hari. sedangkan malam harinya dirinya bersama istri dan anak menghabiskan malam di tenda pengungsian, di wilayah Kubu.

“Kami tetap beraktivitas di siang hari. Kadang memberi makan babi. Biar tidak mati babinya. Kalau sapi tidak punya. Kalau sudah kabut saya mengungsi. Biar cari aman,” singkatnya.

(bx/dik/yes/JPR)

Source link