Ada Yang Tamat SD Nikah – Radar Jember

Wartawan Jawa Pos Radar Jember Rully Efendi mewawancarai Nurul Hidayat, dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unej, yang kerap melakukan bimbingan penelitian skripsi mahasiswa tentang pernikahan dini. 

Adakah temuan baru hasil penelitian tentang pernikahan dini?

Temuannya, pernikahan dini di desa masih tetap ada yang ekstrem. Tamat SD nikah. Jumlahnya tidak sedikit. Dan itu yang memprihatinkan.

Bukannya isu pernikahan dini jadi atensi?

Memang iya. Tapi faktanya di grass root (masyarakat bawah), masih banyak anak gadis yang dinikahkan di bawah 18 tahun. Bukan hanya lulus SMP. Baru tamat SD saja ada.

Kenapa demikian?

Ya. Masyarakat masih banyak yang mempersepsikan bahwa anak perempuan jadi beban ekonomi keluarga. Manusia tidak dilihat utuh sebagai manusia. Lebih condong memandang anak perempuan pada materinya. Bahkan ada yang mempersepsikan, cepat atau lambat tetap akan menikah dan dikasihkan ke orang (suami).

Selain itu, karena faktor persepsi atas nilai anak perempuan. Mereka menganggap, bahwa anak perempuan nilainya di bawah anak laki-laki. Perempuan dianggap tidak bisa jadi tulang punggung keluarga. Sehingga saat dilamar orang, kapan pun itu langsung diserahkan.

Ada pula yang lebih miris. Soal persepsi bahwa perempuan diasosiasikan aib keluarga, jika sampai lama tidak menikah. Karena masyarakat masih banyak yang menyoal perawan tua.

Apa yang kemudian harus dilakukan?

Harus ada totalitas peran elite desa. Kenapa? Karena elite desa lebih memiliki ikatan emosional dengan grass root. Perannya, melakukan sosialisasi pranikah dan pengetahuan seksual.

Apa selama ini peran itu tidak ada?

Ada tapi tumpul. Karena yang dilakukan hanya sekadar sosialisasi informal. Sehingga tidak efektif.

Salah satu contoh yang tidak efektif, melakukan konseling di saat mempelai sudah menyiapkan hajatan. Apakah iya, hajatan nikah akan diurungkan karena konseling lima menit sebelum ijab kabul?

Lantas, efektifnya seperti apa?

Sebenarnya desa memiliki agen sosial nonformal namun memiliki kekuatan yang masif. Siapa itu? Para tokoh agama penggerak pengajian di perkampungan yang rutin digelar seminggu sekali. Sampaikan secara utuh tentang mudarat (keburukan) pernikahan dini. Persepsi-persepsi yang telanjur diasosiasikan buruk, juga perlu dikonter. Saya yakin, jika tokoh panutan yang bicara, grass root akan lebih percaya dan mematuhinya.

Seberapa urgensi peran agen sosial?

Sangat penting. Terlebih di era digital masuk desa. Anak kecil mulai mudah mengakses (maaf) video porno dari gadget. Sedangkan orang tua, gagap teknologi. Bisa dibuat kalah-kalahan orang tuanya.

Nah kemudian, anak yang masih labil, akan mudah terdorong meniru aksi tontonan film tak senonoh. Sampai kemudian, free sex pun juga marak di desa. Seks bebas yang kebablasan, pasti hamil di luar nikah. Supaya keluarga tidak menanggung malu, dipaksakan nikah. Sehingga tingkat pernikahan dini terus bertambah.

Adakah solusi lain?

Solusinya, akses pendidikan tinggi. Semua anak harusnya merdeka meneruskan kuliah. Mendapat kepastian kuliah gratis. Karena logikanya, semakin berpendidikan anak gadis, semakin realistis pula dia memikirkan masa depan perkawinannya. Selain itu, peluang kerja untuk anak gadis juga perlu diperlebar. 

(jr/rul/lin/dwi/ras/das/JPR)

Source link