Air Mata KH Munif Zuhri Menetes di Pembukaan Konferwil NU – Radar Kudus

GROBOGAN – Konferensi Wilayah (Konferwil) XV NU Jawa Tengah dibuka langsung oleh Ketua PB NU KH Saiq Aqil Siradj di Musala Ponpes Miftahul Huda, Desa Ngroto, Gubug, kemarin. Ratusan peserta yang terdiri dari banom NU, ketua tanfidziyah dan syuriah serta PC NU se-Jateng dan Pemda Grobogan mengikuti agenda pembukaan. Kali ini, konferwil tersebut mengambil tema “Meneguhkan Kemandirian NU Jawa Tengah Menyongsong Satu Abad NU”.

Pembukaan acara lima tahunan itu dimulai sekitar pukul 10.30. Usai pembacaan ayat suci Alquran dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, peserta melantunkan mars Ya Lal Wathon.

Acara dilanjutkan sambutan-sambutan. Di antaranya dari ketua panitia Najahan Musyafa’ yang juga wakil ketua tanfidziyah PW NU Jateng. Kemudian KH Ubaidillah Shodaqoh selaku rais syuriah PW NU Jateng.

Sambutan terakhir, Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siradj turut menyampaikan beberapa hal sebelum membuka acara secara simbolis. Antara lain tentang agenda penting melanjutkan perjuangan ulama terdahulu yang sudah meletakkan  fondasi dasar NU serta mengenai kebangsaan.

“Tugas kita melanjutkan perjuangan ulama. Dan yang paling sulit itu menyolidkan masyarakat. Civil society sangat penting,” ujarnya. Dia melanjutkan, tugas NU berat. Karena mengemban tugas untuk meningkatkan budaya, martabat, dan membuat damai masyarakat.

Said juga menjelaskan mengenai situasi Timur Tengah saat ini beserta sejarah sejumlah negara di kawasan tersebut. Dia menyebut bangsa Indonesia sudah selayaknya bersyukur dengan situasi damai yang terjaga hingga kini. Bahkan, hajatan pilkada Jateng juga terselenggara dengan damai dan aman.

“Setelah pilkada langsung kembali lagi ke aktivitas awal. Ada tahlilan, yasinan, yang awalnya beda pilihan langsung salaman lagi,” ujarnya.

Usai sambutan orang nomor satu di NU itu, sebagai penutup acara pembukaan, KH Munif Zuhri dari Mranggen memimpin doa. Sembari menitikkan air mata, kiai pengasuh Ponpes Giri Kusumo itu juga sedikit bercerita bahwa ketika akan mendirikan NU, Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad SAW sampai enam kali.

“Saya bertemu Mbah Hasyim Asy’ari dalam mimpi. Beliau berpesan agar kita semua menjaga NU. Karena NU inilah tiang agama  yang menjaga negara,” tuturnya.
Terakhir, kiai karismatik itu mengajak hadirin bersama-sama melantunkan salawat badar. 

(ks/ful/aji/JPR)