“Kami ada pelatihan budidaya, kemudian pengolahan dagingnya, dan ke depan ada pelatihan penyamaan kulit,” kata Sekretaris Disperpa, Al Idris, di sela memberikan sosialisasi Festival Kelinci Magelang kepada pengunjung car free day (CFD) di Lapangan Rindam IV/Diponegoro bersama kelompok peternak dan penghobi kelinci Kota Magelang, kemarin.

Menurut Idris, ternak kelinci sangat prospek. Pada kelinci, semua bisa dimanfaatkan. Ia menyebut dari daging, kulit, kemudian kotoran kelinci dan air seninya bisa digunakan sebagai penyubur tanaman. “Dan saat ini konsumsi daging kelinci sangat tinggi, namun tidak bisa terpenuhi karena pasokannya sedikit,” ungkapnya.

Bahkan, pertanian dalam prespektif kota, urban farming atau pertanian perkotaan sangat butuh alternatif untuk mengembangkan pertanian yang dihadapkan lahan sempit dengan penduduk sangat padat, namun mengharuskan warganya tetap produktif. Karena itu, menurut Idris beternak kelinci sangat cocok untuk diterapkan di Kota Magelang. Apalagi merupakan komoditas dengan nilai komersial tinggi.

“Ternak kelinci tidak membutuhkan lahan yang luas, tidak menyebabkan polusi atau pencemaran, perawatan mudah, dan untuk ancaman penyakit juga bisa diatasi. Terlebih, sudah ada teknologi yang mengurangi timbulnya bau menyengat pada air seninya. Yakni mencampurkan bahan herbal ke air minumnya dan mengganti makanan dengan sejenis pelet,” tuturnya.

Dikatakan Idris, satu kelinci dengan perawatan dan sanitasi yang baik mampu hidup hingga 5-7 tahun. Pun produktif hingga tahun ke lima. “Hingga saat ini, tercatat seekor induk kelinci bisa melahirkan 5-12 ekor.”

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Kelinci Magelang, Aryono Septa Nugroho mengatakan, festival yang akan diselenggarakan pada 7 Juli 2018, di Gedung Kyai Sepanjang merupakan acara perdana komunitasnya, Guyup Rukun Peternak Kelinci (GRPK). Baru terbentuk pada Desember 2017 lalu. Acara bertajuk Battle of Giant tersebut juga akan diikuti peserta dari berbagai kota. Tiga kategori yang dilombakan, adalah Flemish Giant, New Zealand, dan Rex.

“Kami menghadirkan juri bersertifikat internasional, Arie Wardhani,” tambahnya.

Pengunjung CFD, Anggun, 17, terlihat gemas melihat kelinci jenis rex. Dirinya pun ingin memelihara di rumah. “Ternyata harganya murah, untuk anakan sekitar Rp 250 ribu tergantung kualitasnya. Corak bulunya juga lucu hitam putih seperti anjing dalmatian, jadi gemas,” akunya. 

(sm/put/lis/ap/JPR)