Angka Golput Ungguli Suara Paslon Pilgub di Sumenep – Radar Madura

Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) pilgub di Sumenep 854.158 orang. Setelah direkapitulasi, paslon nomor urut satu, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak memperoleh 248.074 suara. Sementara pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno meraih 240.683 suara. Untuk surat suara tidak sah 9.321 lembar.

Dari angka tersebut diketahui bahwa jumlah pemilih yang berpartisipasi sebanyak 498.078 orang. Artinya, ada 356.080 warga yang tidak datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada saat pilgub berlangsung Rabu (27/6). Angka tersebut jauh lebih tinggi dari hasil perolehan suara masing-masing paslon.

(SIGIT AP/Radar Madura/JawaPos.com)

Dalam Pilgub Jatim 2018 ini, perolehan masing-masing paslon cukup ketat. Selisih Khofifah-Emil dan Gus Ipul-Puti hanya 7.391 suara untuk kemenangan Khofifah-Emil. ”Selisihnya tidak terlalu jauh antara paslon satu dan dua,” kata Komisioner KPU Sumenep Malik Mustafa usai pleno rekapitulasi suara.

Malik mengaku sudah bekerja semaksimal mungkin untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Mulai dari sosialisasi yang teranggarkan, hingga yang tidak teranggarkan. Termasuk mengerahkan seluruh personel yang ada di tingkat kabupaten, kecamatan hingga tingkat desa.

”Saya kira soal undangan, teman-teman sudah maksimal. Kita wanti-wanti untuk C6 itu harus terdisitribusi,” katanya. ”Kecuali mereka tidak ketemu dengan orangnya atau pindah alamat mungkin tidak terdistribusi,” paparnya.

Menurut Malik, saat ini partisipasi pemilih sudah mendekati angka 60 persen dari 854.158 DPT. ”Tetapi kalau dibandingkan dengan pilgub sebelumnya, kita ada peningkatan partisipasi sekitar 6 persen,” tambahnya.

Setelah pleno di tingkat kabupaten, selanjutnya akan direkap di tingkat provinsi. Pihaknya mengaku akan langsung membawa hasil rekap ini ke Surabaya. ”Hasil rekap ini nanti akan disampaikan ke provinsi,” tukasnya.

Komisioner Panwaslu Sumenep Imam Syafii tetap mewanti-wanti agar KPU mengevaluasi terhadap hasil pilkada. Angka partisipasi yang hanya berada di angka 60 persen perlu ditelaah secara cermat. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi juga perlu diperhatikan secara saksama agar tidak terulang di pemilu yang akan datang.

”Partisipasi pemilih menjadi cerminan dari berjalannya demokrasi. Semakin tinggi partisipasi, akan berpengaruh pada kualitas demokrasi itu sendiri,” katanya.

(mr/luq/mam/bas/JPR)