Bagi Gadis ini Perempuan Harus Tangguh! – Radar Bojonegoro

Hidup bergelimang harta, semua keinginan bisa terwujud, lalu jadi remaja yang hobi hambur-hamburkan uang. Hingga pada akhirnya roda kehidupan itu diputar 180 derajat ketika dia memasuki dunia kuliah. 

”Saya dulu anak manja, hobi belanja, habiskan uang, bahkan pernah terjerumus hiburan malam, namun kini semua telah berubah,” tutur perempuan asal Kecamatan Kasiman itu.

Semenjak kakek dan neneknya meninggal, kehidupan keluarga Ratna mulai goyah dan jatuh sejatuh-jatuhnya. Bapak dan ibunya pun harus pisah karena kerap bertengkar. Hutang pun semakin bertambah karena sebuah keserakahan.

Harta benda seperti rumah, mobil, sepeda motor, dan perhiasan tidak tersisa untuk melunasi hutang. Sehingga, uang buat bayar kuliah pun pas-pasan.

Perempuan kelahiran 21 Juli 1993 itu baru menyesali segala perbuatan tidak bermanfaat yang pernah dia lakukan. Kuliah pun akhirnya molor dan lulus dengan indeks nilai prestasi (IPK) yang kurang memuaskan. 

”Menyesal sekali, dulu saya tidak niat kuliah, hobinya belanja, main, dan belanja,” katanya. Padahal, sebenarnya di rumah ada bisnis keluarga berupa persewaan terop, kursi, meja, sound system, dan sebagainya, namun terbengkalai.

Masa terpuruk itu memang sangat menyedihkan bagi Ratna. Namun, dengan penuh keyakinan serta doa, Ratna bersama Ibu dan dua adiknya berjuang untuk hidup.

Ratna pun selalu mencari pekerjaan untuk membantu ibunya. Dia tidak banyak pilih-pilih pekerjaan. Bekerja di perusahaan kecil pun tak apa, yang penting tiap bulan dapat gaji. 

”Saya memutuskan untuk tidak akan kerja ke luar kota. Karena, saya tidak tega dengan ibu dan adik saya. Ke sana ke mari cari kerja, akhirnya diterima di perusahaan-perusahaan kecil,” tuturnya. 

Seiring berjalannya waktu, Ratna mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan lokal di proyek Jambaran Tiung Biru – Pertamina EP Cepu dengan gaji lumayan.

Namun, ternyata tingkat risikonya tinggi pula. ”Di mana saya sebagai satu-satunya perempuan. Harus bisa menjaga harga diri di hadapan rekan kerja yang semuanya cowok dan para pejabat tinggi yang mencoba untuk tidak sopan terhadap saya,” teranganya. Ratna terus bertahan demi keluarga dan masih menjaga martabat sampai saat ini.

Dalam hal ini, Ratna memetik sebuah pelajaran hidup, di mana perempuan cantik yang sebenarnya adalah perempuan tangguh yang kuat menhadapi semua permasalahan hidup tanpa sedikit pun mencoba menyerah.

Bukan perempuan cantik yang sering ke salon, merawat diri demi menjadi Barbie. 

”Biar pun kini tak seputih, tak sehalus, tak sekinclong dulu, tapi hidupku lebih bermakna dari sebelumnya,” jelasnya.

(bj/gas/nas/bet/JPR)

Source link