Banjir Kepung Rowokangkung – Radar Jember

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, hujan deras yang terjadi sejak dua hari terakhir mempengaruhi debit air sungai. Bahkan, sehari sebelum banjir lebih deras dari biasanya. Terutama di kawasan utara.

Akibatnya, debit air sungai Bondoyudo yang masuk kawasan terusan di area Rowokangkung meluber. Tepat di vak XII kawasan Perkebunan PG Jatiroto, kelokan sungai yang tajam tak mampu dibendung beronjong kawat yang dibangun BPBD tahun 2014 lalu.

Akibatnya, beronjong kena terjang. Aliran sungai berpindah dan mengaliri lahan tebu. “Sudah jebol sekitar pukul sepuluh (22.00),’’ ungkap Halik, kepala kampung Dusun Persil Genitri Kidul Kecamatan Rowokangkung malam kemarin.

Malam itu juga, setelah mengecek jebolan bersama warga, langsung diumumkan lewat pengeras suara masjid. Di tengah hujan deras itu pula, warga sudah mulai bersiap-siap. Satu jam kemudian, air sudah masuk ke perkampungan warga.

Air makin membesar ke perkampungan warga. Karena jebolan makin lebar. “Air sungai pindah. Lewat jebolan itu,” katanya. 

Tak sampai tiga jam, dini hari (Jumat, 2/2) kemarin air sudah menggenang sampai lutut orang dewasa. Bahkan, di RT 3 sudah sampai masuk ke rumah warga.

Semalaman warga dikepung banjir. Membuat barang-barang warga dipindah ke tempat lebih tinggi. Warga di RT 3 dan RT 2 yang datarannya lebih rendah juga diungsikan ke masjid yang datarannya lebih tinggi. Semua ternak warga juga dipindah.

Praktis, jika di Dusun Genitri Kidul terendam, kawasan selatannya lebih parah. Yakni di Dusun Wungurejo, Desa Sidorejo. Sebagian juga di Dusun Banter dan Blimbing Desa Rowokangkung.

Halik mengatakan, banjir kali ini adalah yang kelima kalinya. Pertama tahun 1992. Kedua tahun 2010, ketiga tahun 2013, keempat tahun 2016 dan terakhir kali ini. semua penyebabnya adalah jebolnya tanggul. “Memang sudah ditangani. Diberonjong dan ditambal menggunakan alat berat. Tapi tidak efektif juga menahan air besar seperti kemarin,” katanya.

Ada dua titik jebolan di lokasi yang berdekatan. Tepatnya di Vak XII lahan PG Jatiroto, yang juga jadi  titik kelokan aliran air yang begitu tajam. Bekas beronjong yang dibangun dulu juga terkena terjang. “Solusinya ya dipertebal dan ditinggikan tanggulnya. Lebih kuat dari sebelumnya,” pungkasnya. (

(jr/fid/ras/das/JPR)

Source link