Batik Jonegoro, Inovasi Budaya dan Ekonomi dari Bu Yoto  – Radar Bojonegoro

Kehadiran batik Jonegoroan, selain menambah khasanah kekayaan budaya masyarakat Bojonegoro, juga memberi kontribusi pada sektor ekonomi. Kian populernya batik Jonegoroan, secara tidak langsung, juga mengerek ekonomi para perajin batik di Bojonegoro.    

Pudji Rahayu, salah satu pemilik home industry dari Desa Prayungan Kecamatan Sumberrejo menjelaskan, batik Jonegoroan mulai ada pada 2010. Waktu itu, Mahfudhoh mulai mengembangkan sejumlah motif batik Jonegoroan. Dari awalnya sebanyak 9 motif, kini meningkat menjadi 20 motif batik. Di mana, saat ini sudah dikenal di seantero Indonesia. Bahkan, di Jakarta terdapat galeri batik Jonegoroan. “Batik Jonegoroan membawa nama Bojonegoro di kancah perbatikan nusantara,” kata Pudji minggu (21/1)

Sementara itu, Farida, salah seorang pelajar SMA mengaku bangga dengan adanya batik Jonegoroan. Menurut dia, batik merupakan karya seni yang sangat prestisius. Sebab, menggambarkan nilai luhur masyarakat Jawa. Nah, jika ada batik Jonegoroan, tentu nilai luhur masyarakat Bojonegoro bisa direkam sejarah dengan sangat bagus. Sehingga, generasi muda bisa mudah belajar darinya. 

“Inovasi batik Jonegoroan tentu sangat luar biasa bagus. Bagi anak muda, Bu Mafudhoh memiliki sisi kreativitas patut ditiru,” kata dia.  

Apalagi, kata dia, batik Jonegoroan juga sudah diapresiasi oleh perancang busana sekaligus fashion designer Internasional asal Jakarta, Martini Suarsa.  Martini membawa batik Jonegeoroan  ke seantero negeri  bahkan membawanya ke ranah International seperti di International Ipoh Fashion Week (IIFW) Malaysia. “Itu keren dan sangat membanggakan,” pungkas dia.

(bj/nas/zky/faa/JPR)

Source link