Batu bata tanpa bakar dari sisa abu bottom ash hasilnya lebih bagus – Radar Kudus

PEKA terhadap apa yang ada di sekitarnya menjadi kunci keberhasilan Viola Ardaneta dan Clarissa Widananda. Tahun ini mereka membuktikan mampu berprestasi dengan memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar.

Mengenai penelitian yang dilakukan, Clarissa mengatakan, mereka mengangkat penelitian batu bata tanpa bakar dari sisa abu bottom ash PLTU TJB Jepara. ”Ide penelitian ini bermula saat ada acara sekolah di PLTU. Saat itu saya melihat ada banyak abu menggunung. Itu merupakan limbah dan kami melihat ada yang ambil untuk dibuang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Saat itu, baik Clarissa maupun Viola masih duduk di kelas XI. Keduanya kemudian sepakat mencari ide pemanfaatan abu bottom ash yang tidak terpakai tersebut.

Mereka kemudian melakukan penelitian khusus untuk membuat batu bata dari sisa abu bottom ash PLTU TJB Jepara. Penelitian tersebut dilakukan selama sekitar sembilan bulan. ”Mulai Desember 2016 hingga Agustus tahun ini,” ungkapnya.

Clarissa menjelaskan, langkah yang dilakukannya membuat sampel batu bata dengan beberapa komposisi berbeda. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan adonan terbaik dari batu bata yang dibuat.

Pada proses tersebut, mereka berkali-kali gagal sampai akhirnya menemukan adonan yang dinilai tepat dan bisa menghasilkan batu bata terbaik.

”Kami lakukan beberapa kali, untuk adonan batu bata itu bahan yang dicampur dalam jumlah yang sama yakni tanah dan air. Untuk bottom ash dicampur dalam jumlah yang berbeda-beda,” tuturnya.

Clarissa melanjutkan, masing-masing sampel adonan itu dibuat sebanyak 12 buah batu bata. Mereka juga melakukan perlakuan berbeda pada batu bata itu. ”Ada yang kami bakar dan ada pula yang tidak,” ujarnya.

Dari sanalah mereka mengetahui mana batu bata terbaik yang bisa dihasilkan. ”Ternyata yang tidak dibakar hasilnya lebih baik dibandingkan yang dibakar,” katanya.

Sementara itu Viola menceritakan, setelah berhasil membuat batu bata dengan komposisi yang pas mereka berisinisatif untuk mengikutsertakan penelitian mereka dalam lomba karya ilmiah inovatif (LKII) kategori sains 2017.

Viola mengaku, mereka berupaya melakukan yang terbaik dalam penelitian yang diajukan dalam LKII. ”Saya dan Clarissa satu kelas. Selama penelitian berlangsung kami selalu menghabiskan waktu untuk proses penelitian ini. Baik saat pulang sekolah maupun saat hari libur,” ujarnya.

Disinggung mengenai salah satu pengalaman mengesankan selama penelitian, Viola menambahkan, yakni saat mereka terjun langsung ke sentra industri batu bata di Welahan. ”Kami lihat langsung proses pembuatannya, kami juga menitipkan batu bata buatan kami yang dibakar. Pengalaman berinteraksi langsung dengan para pembuat batu bata sangat berkesan,” imbuhnya.

(ks/zen/top/JPR)