Bau Menyengat, Usaha Daur Ulang Cat di Bulukandang-Prigenk Diprotes – Radar Bromo

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, belasan warga itu mendatangi pengolahan cat sekitar pukul 09.00. Mereka datang dengan mengenakan masker dan membawa sejumlah poster. 

Mereka memprotes aktivitas pengolahan cat milik Miskan, 48, warga Desa Tangjangrono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Namun, sudah setahun terakhir Miskan tinggal di Desa Bulukandang, Prigen. 

SUMBER BAU: Lokasi pengolahan limbah cat milik Miskan di Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen.
(Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Aktivitas pengolahan limbah cat itu dilakukan di sebuah pekarangan kosong yang didalamnya terdapat tumpukan limbah cat dalam kemasan karung. 

“Kami dan warga lainnya keberatan dengan tempat pengolahan limbah cat ini. Selain baunya menyengat, juga menimbulkan pencemaran lingkungan di kampung ini. Banyak tanaman warga yang mati gara-gara limbah itu,” ujap Saiful, 38, salah seorang warga.

Menurutnya, warga selama ini sudah cukup sabar. Namun, setelah enam bulan tak ada perubahan, warga pun akhirnya gerah juga. “Kami mendesak tempat ini ditutup. Bahan baku limbah catnya juga harus dibersihkan dan dievakuasi ke tempat lain,” harapnya.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan belasan warga itu mendapat pengawalan dari Polsek dan Koramil Prigen sampai Satpol PP. Tak berselang lama, warga yang menggelar aksi pun digiring ke kantor desa untuk dimediasi dengan sang pemilik usaha. 

Pertemuan yang dimediasi oleh muspika Prigen dan Kades Bulukandang itu hanya berlangsung singkat. Sekitar 30 menit. Warga bubar setelah sang pemilik usaha membuat pernyataan bakal menghentikan operasional pengolahan limbah tersebut. 

Selain itu, pemilik tempat usaha juga bersedia membersihkan area pekarangan kosong itu dari limbah cat yang dikelolanya. Hal itu paling lambat dilakukan sekitar sepekan. 

“Kami di pemerintahan desa sudah berulang kali memberikan teguran ke pemiliknya. Aktivitas pengolahan limbah cat itu sempat terhenti. Namun, sebulan terakhir kembali buka hingga menimbulkan protes warga,” beber Kades Bulukandang Wakhid Mulyo.

Dikonfirmasi terpisah, Miskan, pemilik tempat pengolahan limbah cat itu mengaku salah. Ia pun siap memenuhi permintaan warga lewat sesuai surat pernyataan yang ditandatanganinya. 

“Saya dapatkan limbah cat dari pabrik cat di Mojokerto. Kemudian menampungnya di pekarangan rumah. Lalu, saya olah kembali menjadi cat tembok. Selanjutnya, dijual lagi dengan harga murah,” akunya. 

Ia pun berjanji tak akan melakoni aktivitas mendaur ulang cat itu lagi lantaran kapok usai didemo warga. “Saya berjanji tak mengulangi lagi,” janjinya. 

Di sisi lain, Nanang, salah satu staf Satpol PP menyebutkan, pemilik limbah cat telah diberi teguran keras. “Apabila dikemudian hari ditemukan tetap membandel, maka akan diproses hukum lebih lanjut,” jelasnya. 

(br/fun/zal/fun/JPR)

Source link