Begini Makna Sarana Upakara dan Pelaksanaan Hari Raya Kuningan – Bali Express

Hari Suci Kuningan dilaksanakan sepuluh hari setelah perayaan Hari Suci Galungan. Tepatnya saat Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. Pada hari Kuningan memiliki makna filosofis yang mendalam sehubungan dengan kehidupan semua makhluk di alam semesta ini.

Kata Kuningan berasal dari kata Kuning yang artinya selain warna dalah amertha. Selain itu, ada beberapa yang mengatakan kuningan berasal dari kata Keuningan yang mengandung makna ingat atau Kepradnyanan.

“Dapat disimpulkan bahwa Kuningan merupakan tonggak umat Hindu untuk memohon amertha kepradnyanan dan ingat pada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Mahadewa,” ujar Ida Pedanda Gde Menara Putra Kekeran yang saat walaka bernama Drs Ida Bagus Sudarsana, MBA kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Lebih lanjut dijelaskan, waktu pelaksanaan Hari Kuningan hendaknya tidak melebihi pukul 12.00 siang. Karena ketika telah melewati waktu tersebut para Dewata-Dewati sudah kembali ke Kahyangan.

Seperti diketahui bersama, dalam pelaksanaan hari Suci Kuningan menggunakan Uperengga (pelengkap) Upakara yang cenderung berbeda dari hari lainnya. Beberapa di antaranya yakni Tamiang, Andong, Ter (Panash), Tebog, sampian Gantung dan Salanggi. Semua itu tentu memiliki makna filosofis masing-masing.

Sejatinya, semua Uperengga tersebut memiliki bentuk yang hampir sama dengan senjata dan alat-alat perang. Seperti halnya Tamiang, Takiang berasal dari kata Tameng, yang jelas merupakan sarana perlindungan terhadap musuh. Musuh dalam hal ini adalah diri sendiri dan aura negatif yang kemungkinan muncul dari luar. Tamiang biasanya  dipasang pada pojok-pojok rumah dan Palinggih.

Selain itu, Tamiang juga sering diibaratkan sebagai perputaran roda alam atau Cakraning Panggilingan yang merujuk pada pemahaman kehidupan yang diibaratkan sebagai roda yang berputar. Konsep Dewata Nawa Sanga juga sangat melekat dalam pembuatan Tamiang.

Selain itu ada juga Endongan. Endongan dimaknai sebagai alat atau wadah untuk menempatkan perbekalan. Dimana dalam menjalani kehidupan manusia harus memiliki perbekalan yang cukup. Bekal manusia tersebut disimbolkan dengan panah (ter). Namun hal itu adalah simbolis, senjata manusia yang digunakan sebagai perbekalan mengarungi kehidupan adalah ketajaman pikiran dan ilmu pengetahuan.

“Sedangkan Sampian Gantung memiliki makna sebagai Penolak Bala,” imbuh Ida Pedanda Gde Menara Putra Kekeran.

Selain berbagai simbol senjata tadi, pada hari Kuningan Umat Hindu biasanya membuat Tebog. Tebog adalah salah satu Uperengga yang di dalmnya terdapat Nasi Kuning yang merupakan simbol Amertha, Kacang Botor sebagai simbol Tapa, Daun Intaran sebagai simbol kemakmuran, Caling-calingan sebagai simbol kepradnyanan, Daging Calon sebagai simbol kewibawaan, dan Wayang-wayangan sebagai simbol manifestasi Sang Hyang Widi.

Dan yang terakhir adalah Selanggi, yang merupakan simbol kekuatan Sang Hyang Tri Purusa yang bersifat Satyam, Siwam dan Sundharam, yaitu menganugrahkan  Keteguhan iman, kesucian dan kemakmuran kepada umat manusia. Dengan demikian, hari Suci Kuningan lebih tepatnya adalah ucapan rasa syukur Umat kepada pencipta atas segala berkat dan karunianya di Dunia. Serta senantiasa memberikan kemakmuran kepada umat.

“Hal inilah mengapa upacara untuk kendaraan dan segala karunia Tuhan dilaksanakan pada Hari Kuningan,” kata Ida Pedanda. 

(bx/gus /yes/JPR)

Source link