Beginikah Masa Depan Pariwisata? – Radar Banyuwangi

ADA dua alasan, saya hadir dalam undangan mengikuti Kelas Motivasi dan Inspirasi yang dihelat Pemkab Banyuwangi pekan lalu (18/12). Yang pertama, narasumber yang dihadirkan didominasi kalangan muda. Tak hanya muda dan pintar, mereka juga gaul dan kekinian.

Alasan kedua, saya belum pernah menjajal hall di Hotel eL-Royal Banyuwangi. Siapa tahu, kelak ketika Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) punya gawe, mungkin saja aula berukuran besar dengan karpet bermotif batik Gajah Oling itu bisa jadi salah satu alternatif lokasi pilihan.

Selanjutnya, acara mengalir begitu saja. Saya membaur dengan undangan peserta kelas Motivasi dan Inspirasi itu. Ada banyak pejabat, ada istri/suami pejabat, serta kalangan umum dari berbagai latar belakang. Ada empat motivator yang memberikan materi. Mereka adalah Drs Muhammad Taufiq AB Lc, dokter Mayasari Dewi, dr Gamal Al Binsaid, dan ekonom muda Dias Satria PhD. Materi yang disampaikan sangat menarik. Semua narasumber memberikan wawasan baru dan juga spirit baru. Semua sangat menggugah.

Namun, ada satu hal kecil yang membuat saya terperangah. Mungkin, bagi ratusan peserta kelas motivasi itu, hal kecil itu tidak terlalu menarik perhatian. Hal sepele itu adalah salah satu halaman tampilan slide yang disampaikan Dias Satria, seorang doktor ekonomi lulusan University of Adelaide, Australia.

Usia Dias masih muda, baru 28 tahun. Tapi sudah beberapa buku ditulis ekonom kelahiran Jakarta itu. Sebut saja buku berjudul International finance: Explaining The Financial Crisis (2008), Ekonomi Uang dan Bank (2009), hingga buku populer terbitan tahun 2010 yang berjudul ”Skripsi dalam 30 Hari”.

Nah, satu slide Dias yang bikin saya kaget adalah tulisan ”Masa Depan Pariwisata”. Kemudian, slide selanjutnya adalah tampilan laman ”couchsurfing.com”.

Namun Dias hanya sekilas menunjukkan tren perilaku terkini kalangan wisatawan. Dia bilang, masa depan pariwisata adalah memperbanyak homestay.

Karena di masa mendatang, wisatawan cenderung akan lebih menyukai tinggal bersama warga lokal. Seperti yang dilakukan traveler dalam komunitas besar dunia couchsurfing. Wisatawan akan menikmati hidup bersama warga lokal, mengetahui kebiasaan mereka, dan juga melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari yang dijalani warga lokal. Setelah itu, Dias pun melanjutkan pembicaraan ke tema-tema lainnya yang masih terkait dengan ekonomi.

Nah, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam opini masa depan pariwisata tersebut. Ada juga yang perlu sedikit diluruskan. Namun yang paling penting, pemahaman tentang masa depan pariwisata tersebut hanyalah salah satu contoh, bahwa teknologi dan aplikasi berbasis internet, ternyata memegang peran penting dalam perkembangan bisnis di masa depan. Tidak terkecuali bisnis pariwisata. Siapa yang bisa berkolaborasi dengan teknologi akan survive. Bahkan bisa maju. Siapa yang kurang update, tentu akan tergilas zaman…

Oh ya, ngomong-ngomong, barangkali belum semua orang paham tentang couchsurfing. Kebetulan, saya sudah jadi member couchsurfing sejak tahun 2012 lalu.

Kalau diterjemahkan secara bebas, couchsurfing adalah situs pencari sofa. Ini adalah aplikasi berbasis internet, yang pada praktiknya adalah mencari tumpangan tidur (sofa) bagi traveler (wisatawan). Jaringan komunitas ini sudah hampir ke seluruh negara di dunia.

Mereka dikenal dengan tagline ”Stay with locals, Meet the travelers”. Cara kerjanya begini. Traveler mengajukan request (permintaan) kepada calon host (tuan rumah). Kalau pengajuan tulisan request-nya sembarangan, kurang sopan, dan kurang menarik, tentu host akan tegas menolak.

Yang paling penting adalah referensi yang dimiliki traveler atau pun referensi yang dimiliki host. Ada data lengkap profil masing-masing member. Ada juga data catatan sudah berapa kali mereka menerima tamu. Bagaimana komentar-komentar tamunya.

Kalau dia jadi traveler, ada juga data catatan komentar tuan rumahnya. Kalau ada satu saja catatan negatif, pasti yang bersangkutan akan sulit mencari tuan rumah. Begitu pula sebaliknya, kalau saat menjadi tuan rumah punya satu saja catatan negatif, traveler tidak mau mampir.

Pada dasarnya, couchsurfing berlandas pada trust (sikap saling percaya) antara wisatawan dan tuan rumah. Para member tersebut bersatu dalam komunitas ini, lantaran mereka semua meyakini, bahwa di dunia ini masih ada orang baik yang mau membantu. Mereka juga meyakini, bahwa masih ada orang baik yang mau berbagi. Baik berbagi pengalaman, budaya, tradisi, serta pengetahuan tentang sesuatu yang sifatnya sangat melokal.

Bagi traveler, mereka sangat diuntungkan bisa dapat menumpang hidup di rumah host warga lokal. Mereka bisa menjalani hidup dalam balutan budaya lokal, tanpa ada kemasan tertentu. Semuanya asli, murni, dan tentu saja sangat tulus.

Tapi jangan berharap, traveler couchsurfing bisa seenaknya dilayani layaknya wisatawan yang menginap di hotel atau homestay. Mereka wajib mengikuti semua aturan yang berlaku di tempat tinggal tuan rumah. Misalnya, mereka harus cuci piring sendiri setelah makan, harus mencuci, menyapu, memberi makan ternak, dan sebagainya. Karena di couchsurfing ini, mereka tidak dipungut biaya. Tuan rumahnya sudah dianggap sebagai teman, atau bahkan dianggap saudara sendiri.

Bagi tuan rumah, ada juga keuntungan yang didapat dengan menerima traveler menjadi anggota keluarganya, meski mereka hanya tinggal beberapa hari. Ada banyak pertukaran pengalaman dan budaya yang bisa mereka dapatkan. Tuan rumah bisa belajar bahasa asing dengan cara praktik secara langsung. Host juga bisa memperkuat jaringan di negara lain, ketika suatu saat mereka hendak melancong ke luar negeri. 

Memang agak rumit kalau pelesir dengan metode ini. Belum lagi, kalau pengajuan (request) tidak terbaca, lantaran host jarang online di internet. Tentu saja, traveler sangat selektif dalam memilih tuan rumah. Sebaliknya, host juga selektif mengizinkan traveler tinggal di rumah kita.

Inilah sedikit yang perlu diluruskan. Praktik couchsurfing tidak semudah yang disampaikan Ekonom Dias Satria dalam kelas Inspirasi pekan lalu. Tetapi patut dicatat, ekonom muda ini ikut membuka wawasan kita tentang banyak hal, termasuk memikirkan masa depan pariwisata.

Bahwa memang benar, pariwisata itu tidak hanya objek wisata serta faktor pendukung semacam hotel, homestay, restoran, transportasi, suvenir, dan rumah makan. Membangun pariwisata itu, ternyata tidak sekadar membangun fisik objek wisata dan faktor pendukung lainnya.

Membangun pariwisata, ternyata juga bermakna membangun manusianya. Memperbaiki perilaku orang-orang dalam memberikan layanan itu terbaik, juga sangat penting.

Dulu, tuan rumah selalu jadi pihak yang dituntut untuk memberikan layanan terbaik. Tapi dalam sudut pandang couchsurfing, tak hanya tuan rumah yang dituntut menjadi lebih baik. Traveler pun harus bersikap baik dan saling respek. Karena itu, siapa pun kita, apa pun peran kita, tetap saling menghargai dan jadilah yang terbaik. ([email protected])

Source link