Belasan Layangan Hiasi Langit Pantai Bayem – Radar Tulungagung

Permainan tradisional yang masih terus eksis tersebut diterbangkan puluhan orang dari berbagai daerah yang mengikuti sebuah event kompetisi. Tak ayal, layang-layang berbagai bentuk tersebut menarik minat pengunjung lokasi wisata yang bertetangga dengan Pantai Gemah tersebut.

Herjuno Sukoco Adi, salah satu anggota Perkumpulan Pekarya Layang-Layang Indonesia (Perkalin) Jogjakarta mengatakan, kegiatan tersebut sebenarnya sebuah rangkaian kompetisi di tiga kota. Sekaligus untuk memberi kesempatan bagi komunitas layang-layang di kota yang disinggahi dan sekitarnya untuk menampilkan kreasi layangan yang dimiliki.

INDAH: Layang-layang berbagai bentuk mengudara di langit Pantai Bayem, kemarin (1/7).
(DHARAKA R. PERDANA/RATU)

“Ini untuk mewadahi hobi sekaligus berkompetisi,” katanya saat ngobrol singkat dengan Koran ini.

Menurut dia, layang-layang yang ditampilkan tidak hanya tradisional, khususnya bapangan, tetapi juga layangan kreasi. Baik tiga dimensi maupun dua dimensi. Dengan begitu, menuntut si pembuat untuk mengekspresikan seluruh kemampuan peserta agar menjadi terbaik.

“Tiga terbaik diundang di event internasional yang digelar di Pantai Parangkusumo, Jogjakarta,” jelasnya.

Layang-layang yang ditampilkan peserta pun cukup beragam. Selain bapangan, ada yang menampilkan naga terbang, rambo, jaranan, dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan, anggota Perkalin pun unjuk kebolehan dengan layangan sport yang bisa meliuk-liuk di udara.

Para pengunjung pantai memanfaatkan momen tersebut dengan mengabadikan di kamera maupun smartphone masing-masing.

Sementara itu, Agus, salah satu peserta asal Desa Parakan, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek mengaku antusias mengikuti event tersebut. Apalagi selama ini komunitasnya lebih banyak ambil bagian di kompetisi di dalam kota. Dengan adanya kompetisi itu tentu menjadi kesempatan untuk menampilkan layangan yang sudah dibuat.

“Untuk pembuatan layangan model naga terbang, butuh waktu lama. Bahkan satu dusun pun kami libatkan,” tuturnya.

Pemuda berkulit sawo matang ini menambahkan, menaikkan layangan tiga dimensi memang menciptakan kesulitan sendiri. Apalagi semua anatomi harus diciptakan secara detail agar tercipta keseimbangan saat mengangkasa.

“Saat mengangkasa pun harus melihat angin. Namun kali ini, angin di atas sering habis sehingga membuat layangan mendarat,” pungkasnya. (rka/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)