Berawal dari Iseng Kini Jadi Perajin Kain Lukis – Radar Surabaya

“DARIPADA menganggur saya mengikuti pelatihan melukis kain di Dinas Koperasi Sidoarjo. Kok ternyata bagus, akhirnya saya dipilih jadi pengajar melukis kain di setiap kegiatan dinas tersebut,” katanya kepada Radar Sidoarjo, Jumat (29/12).

Ibu tiga anak ini menuturkan memang sudah menyukai fashion sejak kecil. Sebab, sang ibu merupakan penjahit, mau tidak mau membuatnya bergelut dengan ‘dunia kain’. Apalagi, ibunya juga sering membuatkan baju untuknya. 

“Jadi sedikit banyak saya tahu proses membuat baju. Kalau saat ini saya yang membuat pola, lalu kita punya penjahit sendiri,” ujarnya.

Wanita kelahiran Sidoarjo 9 September 1979 ini menjelaskan perjalananya ini dilalui dalam proses yang panjang. Tahun 2007 ia memutuskan untuk ikut pelatihan melukis di atas kain pada 2007. Pelatihan tersebut semakin membuatnya menyukai seni kain lukis. 

Tak hanya kain yang dilukisnya, namun juga baju, tas dan dompet. Motifnya pun beragam. Mulai bunga, hewan, hingga aktivitas manusia. Lantas tahun 2018 ia mengaku berinovasi dalam bentuk gambar maupun desain baju yang akan dibuatnya.

Istri dari pria bernama Wisnu ini mengatakan pemasaran yang dilakukannya melalui media sosial dan getok tular. “Alhamdulillah banyak sekali peminatnya,” katanya.

Wanita yang akrab disapa Yani ini mengatakan dalam melakukan proses lukis, ia menggunakan cat khusus tekstil. Dalam sehari, dengan dibantu lima rekannya, ia mampu menghasilkan 10 kain dan tas lukis. “Kalau pas lagi semangat bisa lebih dari itu. Karena kita tidak pernah menargetkan sehari harus jadi berapa,” jelasnya.

Untuk harga, produk kain dan tas kulit lukis dihargai sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta.  Namun kata dia, yang paling laris yakni dompet wanita ukuran kecil yang harganya sekitar Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu. “Kalau untuk dompet ada yang terbuat dari kulit sapi maupun kulit ular,” ujarnya. (*/jee)

(sb/rek/rek/JPR)