Faradifa Audriannisa yang menjadi panitia mengungkapkan, acara itu dalam rangka menambah wawasan kreativitas penerapan K13. Dimana selama ini masih banyak siswa yang mengaku kurang nyaman dengan penerapan K13. Yang alasannya banyak tugas, ribet dan lain sebagainya. “Sebenarnya dalam hal ini, jika seorang guru semakin kreatif, maka siswa akan muda nyambung,” terang perempuan yang masuk Perhimpunan Pelajar Indonesia tersebut.

Sebab klasifikasi siswa ada yang mudah menangkap, ada juga yang sulit. Bahkan ada yang autistik. Namun ketika ada bekal kreatif, maka pembelajaran itu bisa mudah diterima dengan seluruh siswa. Sementara volunteer Ruang Berbagi Ilmu menjadi narasumber dan vasilitator. Mereka berasal dari Jakarta, Tulungagung dan dari berbagai daerah. Total ada delapan volunteer yang terjun ke Bondowoso. Untuk mengumpulkan guru SMP, Perhimpunan Pelajar Indonesia berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan Bondowoso.

Sementara Afif Pandu Abdalla, alumnus S1 Teknik Industri Texas, Amerika Serikat mengungkapkan, dirinya baru pulang ke Indonesia dan langsung terlibat dalam agenda itu. Namun dirinya sangat bersemangat. “Metode kreatif tentang K13, jadi isinya mengajak para guru untuk lebih kreatif,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, beda antara studi di luar negeri dan di Indonesia adalah dalam hal beban pelajaran. Di luar negeri, khususnya di Texas, Amerika, siswa bisa memilih pelajaran yang dia sukai. “Jika tidak suka biologi, tidak wajib itu. Makannya ada yang memang tidak tahu sama sekali dengan Biologi, itu wajar,” terangnya.

Namun di Indonesia siswa harus memilih full. Misalnya ada 12 mata pelajara, maka itu harus dipelajari dan dipilih. Hal itu harus menjadi tantangan seorang guru dalam pembelajaran. Sehingga anak bisa ikut kreatif dengan kreatifitas yang diajarkan guru. “Harus ada banyak metode agar bisa memberi pemahaman seluruh siswa tentunya,” ujarnya. 

(jr/hud/wah/das/JPR)

Source link