Biasa Main Belakang – Radar Jember

Menyurangi operator ojek online lokalan di Jember, juga diakui sangat mudah oleh Sulaiman. Dia mantan driver ojek online lokal yang sempat terkenal di Jember. Namun diakuinya, tempatnya bekerja itu kini gulung tikar.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember itu mengaku awalnya tertarik kuliah nyambi kerja di ojek online, karena tawaran penghasilan yang menggiurkan. Dia berhak mendapatkan 70 persen dari ongkos penumpang yang diantarnya. Perhitungannya, penumpang dibebani membayar Rp 2.500 setiap kilometernya.

Dibilang nyambi, karena dia tidak perlu masuk kantor. Jam kerjanya disesuaikan dengan waktu kosong kuliah. Bahkan, dia tidak perlu mencari penumpang. Semua diatasi oleh operator ojek online tempatnya bekerja. “Saya tinggal menunggu di kosan. Baru kalau ada order, orang kantor menghubungi saya,” jelasnya.

Namun tidak semua harus menunggu kontak dari operator. Apalagi driver lawas yang sudah banyak pelanggannya. Dia pasti menyerobot dengan meminta pelanggannya, langsung kontak ke nomer pribadinya tanpa harus melalui operator. “Saya pun begitu. Karena kalau langsung kontak saya, tidak perlu lagi saya setor ke kantor,” akunya. Dia sebut itu main belakang.

Praktik curang yang demikian rupanya lumrah dilakukan para driver. Pun demikian yang disampaikan Hakim, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jember, yang juga nyambi jadi driver ojek online. “Bagi saya yang driver, bukan hanya untung dapat ongkos penuh. Tapi juga bisa dijadikan ilmu baru tentang merawat langganan,” katanya.

Selain itu Hakim tidak pernah waswasketahuan pihak operator ojek online lokal tempatnya bekerja. Sebab yang dia tahu, sistemnya sangat sederhana. Bahkan, quality control pun diakuinya lemah. “Karena itu saya berani curang,” katanya sambil melepas senyum. Meski dia pun akhirnya juga menyesal, karena tempat kerjanya akhirnya gulung tikar. 

(jr/was/das/JPR)

Source link