Sukses sang kakak menjadi inspirasi dan motivasi sang adik untuk meniti impian dengan menempuh ilmu di ITB.

Empat pasang kakak beradik dari Trenggalek, yaitu Daniar Heri Kurniawan dan Fandi Azam, Rian Yulianto dan Natalia Dwiyanti, Burniadi Moballa dan Mira Muliati, David Pambudi Sahara dan Tiara Rossyda Sahara.

Di Idul Fitri kemarin, beberapa mahasiswa dan alumni ITB ini berkumpul di rumah Retno W. Sarwanto di Jalan Cokroaminoto No. 10 Trenggalek, orang tua dari Wawan Dhewanto, Ph,D. Wawan adalah dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Wawan, kakak beradik kuliah di ITB merupakan fenomena yang bagus.

Keberhasilan sang kakak untuk kuliah di ITB, menginspirasi sang adik untuk turut menimba ilmu di kampus Ganesha. Menjadi kebiasaan bagi Wawan Dhewanto, saat berlibur ke Trenggalek di libur Idul Fitri, mengundang para mahasiswa dan alumni ITB berkumpul di kediaman orang tuanya.

Selain bersilaturahmi, kesempatan ini juga untuk terus memberi motivasi bagi para mahasiswa ITB dari Trenggalek, memperkuat ikatan persaudaraan. Mengingat mereka menempuh pendidikan di Bandung yang cukup jauh dari Trenggalek.

Menurut Wawan, silaturahmi ini memberikan kesempatan para mahasiswa ITB untuk bersilaturahmi dengan para alumni ITB asal Trenggalek. Momen Lebaran merupakan waktu yang pas bagi mereka untuk bertemu.

Serunya kuliah di ITB telah dirasakan Daniar. Mengambil S1 jurusan Teknik Informatika, Daniar menghabiskan waktu selama lima tahun menyelesaikan studinya.

Memang lebih lama dibandingkan dengan teman-temannya. Namun, selama lima tahun itu digunakannya untuk banyak kegiatan student exchange, internship, dan research abroad.

“Di tahun 2014, saya mengikuti AIESEC Global Volunteer di Thailand. Kemudian di 2015 saya mengikuti internship di Tokyo dilanjutkan dengan riset di JAIST, Ishikawa, Jepang. Di 2016, saya kembali berkunjung ke Jepang untuk mengikuti International Student Program di Toyohashi University of Technology. Selanjutnya, di tahun 2017 saya berkesempatan untuk mengunjungi CERN yang berlokasi di Geneva, Swiss, bersama dengan 36 mahasiswa lain setelah lolos seleksi pendaftaran dari 1580 peserta dari seluruh dunia. Selain itu, saya juga cukup aktif melakukan publikasi ilmiah dan berhasil menjadi pembicara di beberapa konferensi internasional. Diantaranya ICEEI 2015 di Bali, ICAICTA 2016 di Penang, dan ICEEI 2017 di Langkawi, Malaysia,” tutur Daniar menceritakan pengalamannya mengikuti berbagai program di luar negeri selama kuliah di ITB.

Saat ini, Daniar tercatat sebagai mahasiswa PhD di University of Chicago, Amerika Serikat, dengan topik riset di bidang Cloud Computing dan Distributed Systems. Sukses Daniar ini sangat memotivasi sang adik, Fandi Azam Wiranata. Tahun ini Azam telah diterima di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB.

Jika sang kakak mengambil Teknik Informatika, Azam ke depannya ingin mengambil Teknik Telekomunikasi.

“Karena basic-nya saya suka penelitian. Di SMA saya juga bergabung dengan ekstrakurikuler KIR (karya ilmiah remaja, Red). Suka ikut lomba-lomba di seputar esai karya tulis. Nah, di Teknik Telekomunikasi kan kesempatan risetnya masih besar, masih akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Selain itu, saya juga ingin ikut student exchange atau riset ke kampus di luar negeri, seperti yang pernah dilakukan kakak saya ke Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, dan Swiss, karena ITB punya relasi yang besar untuk program student exchange,” ucap Azam.

Dan ada dua poin lagi yang membuat langkahnya semakin mantap berkuliah di ITB. Pertama, saat mendapatkan presentasi dari mahasiswa ITB lewat campus fair, Azam mendapatkan kesan yang berbeda.

Mahasiswa ITB lebih smart dan berwibawa dibandingkan dengan beberapa mahasiswa dari kampus lain yang mengadakan acara serupa di sekolahnya. Poin kedua, Azam terinspirasi oleh Prof. Saiful Anwar, alumni Teknik Elektro ITB penemu teknologi telepon seluler fourth-generation technology (4G).

“Saya ingin mengikuti jejaknya,” ujar Azam.

Berikutnya, Rian Yulianto, kakak Natalia Dwiyanti, telah lulus dari ITB pada 2015 lalu. Kini Rian yang saat kuliah mengambil jurusan Teknik Tenaga Listrik (arus kuat) kini telah bekerja di PLN Klungkung. Keberhasilan sang kakak menyelesaikan studi di ITB ini juga yang akhirnya membuat orang tua Natalia memberikan izin bagi putrinya untuk berkuliah di ITB.

Beberapa nama PTN dan kota tujuan sempat menjadi tujuannya, seperti Universitas Indonesia di Jakarta, atau Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Namun akhirnya Natalia yang mengambil jurusan IPA di SMAN 1 Trenggalek ini diterima di SBM ITB.

Berawal saat kelas satu SMA, Natalia ikut olimpiade ekonomi. Dari sana dia juga sempat tertarik untuk mengambil jurusan Akuntansi atau Manajemen di UI atau UGM. Dari kakaknya, Natalia juga baru tahu jika ada SBM di ITB, dan akhirnya tertarik lah dia.

Selain itu, karena restu orang tua jatuh di Kota Bandung dibandingkan harus ke Jakarta, apalagi kakaknya alumni ITB juga ada kakak kelas serta teman-temannya memilih di ITB.

Karena mengambil jurusan IPA di bangku SMA dan memilih jurusan IPS untuk jurusan yang dipilihnya, Natalia pun sempat belajar pelajaran IPS dengan mencuri-curi waktu untuk membuka buku jurusan IPS.

“Pas guru njelasin Kimia, saya buka buku Geografi. Kemarin ikut tes lewat SBMPTN untuk anak IPA dan diterima di SBM ITB,” kenang Natalia.

Selain pasangan kakak beradik ini, ada juga mahasiswa baru yang menceritakan keseruan mendaftar di ITB dan harapan mereka nantinya.

Bagi Sefrico Agung Saifulloh, mencari informasi tentang ITB sudah dilakukannya bahkan semenjak masih SMP. Dari berbagai informasi secara online maupun dari pengalaman kakak kelas yang berkuliah di ITB, membuat Sefrico mantap memilih ITB sebagai pilihan pertamanya. Mahasiswa baru yang tinggal di Kelurahan Kelutan ini memilih FMIPA.

“Sejak dari SMP saya suka sama Fisika. Pengennya untuk kuliah belajar lebih pada Fisika murni. Saya pengen bener-bener belajar Fisika, lebih mendalam tentang seluk-beluk Fisika. Dan sejak masuk SMA, pengennya nanti lulus meneruskan ke ITB, sudah mantep aja. Saya sudah diterima lewat SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, Red). Ke depan pengen sekali bisa ikut short course di Jepang,” ucap alumni SMAN 1 Trenggalek ini.

Berbeda dengan Sefrico, Wasingatun Nikmah, alumni SMAN 1 Trenggalek jurusan IPS juga kepincut dengan ITB. Setelah pada satu kesempatan di sekolahnya didatangi para mahasiswa dari ITB yang sengaja datang untuk promo kampus lewat Campus Fair.

“Saya nggak nyadar kalo di ITB itu ternyata ada sekolah untuk bisnis dan manajemen,” ucap gadis yang tinggal di Desa Ngares ini.

Dari situ, Wasik kemudian aktif mencari informasi secara online. Lewat jalur SNMPTN juga dirinya mendaftar ke perguruan tinggi. Pilihan pertama ke ITB, sedangkan pilihan kedua ke Universitas Brawijaya (UB) Malang.

“Ternyata diterima di pilihan pertama, kaget juga. Alhamdulillah,” ucap Wasik.

Untuk selanjutnya, Wasik belum punya banyak rencana. Baginya, yang penting dijalani dulu. Apalagi begitu menginjakkan kaki di Bandung, udara dingin dan segar sepertinya akan membuatnya betah tinggal di Bandung.

“Ya, begitulah. Yang penting memantapkan diri. Saya banyak berdoa dan menuruti perintah orang tua. Mudah-mudahan ke depannya lancar,” harap Wasik. (ed/tin)

(rt/lai/ang/JPR)