Bripka Juhair, Anggota Polisi yang Jadi Dalang Wayang Kardus – Radar Bojonegoro

Juhair kecil hidup dengan orang tuanya. Seperti anak desa pada umumnya. Pergi ke sawah dan bermain dengan teman-temannya. Ngarit atau mencari rumput untuk pakan ternak juga sudah menjadi kegiatannya sehari-hari.

Saat kecil pria yang kini sudah tinggal di Desa Ngunut Kecamatan Dander ini takut dengan polisi. Bukan apa-apa. Sebab, kebanyakan orang tua sering menjadikan polisi untuk menakuti anak-anak. Misalkan, saat anak-anak nakal, pasti orang tua menyematkan kata polisi untuk menakuti anak agar tak nakal lagi.

“Dulu kalau lihat polisi ya lari,” katanya dibarengi dengan gelak tawa.Tapi, rasa takut itu pun berbuah menjadi cita-cita. Dia yang lulusan sebuah madrasah pun memilih untuk mendaftar sebagai bintara polisi. Juhair ikut tes dan akhirnya diterima. Dia pertama tugas menjadi polisi di Polres Bojonegoro pada 2003.

Setahun kemudian, dia pindah ke Polsek Dander dan kemudian bertugas menjadi bhabinkamtibmas di Desa Ngunut. Dia pun menikmati kesehariannya sebagai polisi. Pria yang awalnya takut dengan polisi ini kemudian memiliki tekad untuk lebih mendekatkan polisi ke masyarakat.

Karena tekad itulah, dia sebagai anggota polisi di desa lalu melakukan sebuah inovasi. Dia membuat sebuah wayang dari kertas karton. Wayang itu digunakan untuk media agar bisa lebih dekat dengan warga masyarakat khususnya anak-anak.

Dia pun membuat wayang dengan berbagai macam karakter. Tokoh Bagong dan Gareng tak pernah dilupakan. Kemudian, ada karakter seolah polisi. Dari wayang inilah, dia berkunjung dari sekolah ke sekolah lainnya. Menjadi dalang dan memerankan wayang ini dilakukannya sejak 2014.

“Ya muter pakai motor. Terus saya bawa gedebog pisang juga,” katanya. Juhair melanjutkan, saat memainkan wayang dia banyak bercerita tentang hal-hal yang sederhana. Kemudian, disangkutkan dengan peran polisi. Misalnya, saat tokoh Gareng naik motor dan tidak memakai helm.

Dari sana dia memberikan pesan bila berkendara harus menggunakan helm. “Ya kan ada lucu-lucunya, jadi anak-anak suka,” tutur bapak satu anak ini. Dia menceritakan, sekali manggung sebagai dalang waktunya tidak lama. Sekitar satu jam saja. Kemudian, dia memberikan sisipan tentang pengetahuan rambu-rambu lalu lintas kepada anak-anak.

“Kami polisi bisa jadi lebih dekat dengan warga masyarakat dan anak-anak,” tutur dia. Juhair mengaku dia merogoh koceknya sendiri saat membuat wayang. Membuat dengan cara sederhana. Kadang, juga meminta bantuan temannya jika dia menemukan kesulitan saat membuat.

Menurut Juhair pilihannya jatuh pada wayang. Karena, saat kecil dia sering diajak oleh orang tua nonton wayang. Dari sanalah, dia ingin melestarikan wayang yang sudah jarang sekali di tengah-tengah masyarakat.

“Dulu kalau sama bapak saya ya nonton wayang naik ontel,” kata dia. Tak hanya bermain wayang saja. Pria yang sumeh ini pun terus melakukan inovasi di rumahnya. Dia membuat rumah bacaan masyarakat. Buku-buku dari sumbangan beberapa teman dan pihak lain pun memenuhi rumahnya. Bukan buku bacaan berat.

Buku untuk anak-anak lebih banyak tentang buku cerita. Tak hanya anak-anak. Tapi, ada buku untuk para bapak maupun ibu yang cenderung menyesuaikan kebutuhan masyarakat sekitar.  “Ya lumayan ramai,” katanya.

Atas berbagai inovasi yang dilakukannya. Juhair pun menerima banyak apresiasi. Puncaknya dia bersama Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu S. Bintoro dan perwakilan Polda Jatim masuk dalam sepuluh besar lomba pengembangan pemolisian masyarakat (Bang Polmas).

Saat final, tim dari Polda Jatim yang diwakili Bojonegoro ini mendapatkan juara II dalam lomba itu.  “Ya saya bersyukur,” kata dia. 

(bj/aam/nas/bet/rod/JPR)

Source link