Banyak orang keluar dan masuk di halaman SMPN 2 Bangkalan. Dari luar tampak payung ragam warna menggantung di atas halaman sekolah yang terletak di Jalan KH. Hasyim Asyari itu. Kebanyakan wajah menunjukkan ekspresi ceria. Mereka masuk ke tiap ruang kelas.

Mereka adalah wali murid. Waktunya pengambilan rapor anak. Para orang tua siswa itu tidak masuk pada satu ruang kelas saja. Usai dari satu ruangan, berpindah ke ruang lainnya. Bahkan ada yang keluar dengan makanan dan suvenir di tangan.

Siswa tidak berseragam sekolah. Kebanyakan menggunakan pakaian tradisional. Bukan hanya adat Madura, melainkan beragam pakaian adat nusantara. Siswa sengaja menggunakan beragam pakaian adat nusantara.

Sejumlah ruang kelas didekorasi dengan nuansa daerah-daerah di Indonesia. Ada Jawa Timur, Jogjakarta, Betawi, Jawa Barat, Bali, bahkan ada yang menggunakan baju adat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di salah satu ruangan dengan nuansa kebudayaan Pulau Dewata, Bali, koran ini mencoba memainkan robot karya siswa SMPN 2 Bangkalan menggunakan remot kontrol. Ada Hanoman dengan kostum putih menemani. Di depan ruangan juga dihias ala Bali.

Kepala SMPN 2 Bangkalan Edy Haryadi menyampaikan, kegiatan tersebut dilaksanakan setiap tahun. Meski dalam rangka pengambilan rapor, yang datang bukan hanya wali murid. Alumni ikut berpartisipasi. Siswa sangat antusias mengonsep dan menggelar kegiatan tersebut.

”Sebelum mengambil rapor, wali murid masuk ke ruang-ruang pameran dulu. Supaya orang tua siswa tahu kalau anaknya kreatif di sekolah,” ungkap pria yang juga menjabat ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Bangkalan itu Sabtu (16/12).

Selain berpakaian adat, siswa juga menampilkan karya seni. Setiap masuk ruangan, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan penuh warna. Bahkan ada ruang kelas yang berisi motor klasik Vespa, becak, ontel, dan miniatur Monas dengan tinggi sekitar 1,5 meter.

”Tahun lalu berkonsep pertanian. Tahun ini kebudayaan. Mengajarkan tentang pentingnya Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua,” papar Edy.

Tujuan lain dari kegiatan tersebut untuk mengapresiasi karya siswa. Diharapkan siswa terus meningkatkan kreativitasnya. Selain itu, setelah menempuh kegiatan belajar mengajar (KBM) selama satu semester dan ujian sekolah, siswa mampu menyajikan pameran sebelum libur panjang.

”Banyak yang berkunjung. Pengambilan rapor tidak selalu menegangkan bagi siswa. Wali murid bisa tahu karya putra-putrinya di sekolah. Biar tidak hanya melihat nilai rapor,” tuturnya.

Edy menambahkan, kegiatan tersebut akan terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya. Siswa tidak hanya disajikan dengan pembelajaran di kelas. Namun, memberikan ruang bagi siswa untuk menampung kreativitasnya.

Maulana Putra Suryana, 14, siswa kelas IX SMP menyampaikan, orang tuanya merasa terhibur dengan sajian pameran kebudayaan di sekolah. Meski pengambilan rapor, dia mengaku tidak ada ketegangan yang timbul menyangkut nilai.

”Kami mempersembahkan untuk orang tua. Supaya bangga dan tidak bosan menunggu pengambilan rapor di sekolah,” kata siswa asal Kelurahan Mlajah, Bangkalan, tersebut.

(mr/bad/hud/luq/bas/JPR)