Cari Solusi yang Tidak Merusak Lingkungan – Radar Bojonegoro

Camat Palang Rohmad kepada Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, lokasi tambang rakyat yang dimiliki 5 warga setempat tersebut menjadi gantungan hidup lebih dari 100 pekerja. ”Dengan pertimbangan sosial, kita akan carikan solusi yang terbaik,” tegas dia.  

Menurut penelusuran wartawan koran ini, problem yang dihadapi masyarakat di sekitar area tambang memang sangat kompleks. Sebagian besar sudah belasan, bahkan puluhan tahun bergantung hidup dari tambang. Mereka juga tidak memiliki lahan pertanian. ”Karena itulah, menambang adalah pilihan utama mereka untuk menghidupi keluarganya,” ujar Ali Baharudin, aktif lingkungan Tuban.  

Selain tak memiliki lahan pertanian, lanjut dia, mayoritas mereka tak memiliki keahlian khusus. Pendidikannya juga rendah. Dengan kondisi dilematis seperti ini, menurut Ali, seharusnya tidak menjadi alasan pembenar bagi penambang untuk mengeksploitasi bebatuan karst. ”Pemerintah harus bijak mencarikan solusi dengan tidak mengorbankan ekosistem,” ujar dia. Solusi tersebut, mulai memberikan pelatihan kerja hingga bantuan permodalan usaha. Kalau perlu, yang berminat bertani, Perhutani memfasilitasi dengan menyiapkan lahan persil.

Diberitakan sebelumnya, ambruknya tambang kumbung di Desa Wangun dan Leran Wetan, Kecamatan Palang pada Juma (12/1) seakan menjadi peringatan bagi para penambang. Pasalnya, konsep penambangan yang tidak sesuai dengan prosedur itu menjadi ancaman bagi para pekerjanya. 

Diduga, runtuhnya lokasi tambang itu karena konsep penambangannya masih tradisional. Layaknya membuat sebuah gua. Susunan batu kapur yang menjulang itu dilubangi dari bawah. Selanjutnya, disisakan tiang-tiang sebagai penyangga. Tiang-tiang penyangga inilah yang runtuh karena tak mampu menahan beban di atasnya. Tidak ada korban jiwa dalam insiden yang berlangsung sekitar pukul 10.00 itu.

(bj/can/zak/ds/faa/JPR)

Source link