CJH Bakal Dihadapkan Cuaca Ekstrem selama di Tanah Suci – Radar Mojokerto

MOJOKERTO – Meski jadwal keberangkatan haji kurang sebulan lagi, bukan berarti tidak ada persiapan yang bisa diupayakan ribuan calon jamaah haji (CJH) Kabupaten Mojokerto sebelum menuju Tanah Suci.

Setelah melewati proses pelunasan biaya pelaksanaan ibadah haji (BPIH), sebanyak 1.403 CJH kini kembali dituntut mampu menguasai sejumlah persyaratan haji lainnya. Termasuk tata cara dalam menyelesaikan rukun Islam kelima itu secara sempurna.

Nah, untuk bisa melewati proses itu, ribuan CJH kini telah dibekali materi khusus untuk bisa melewati seluruh rangkaian ibadah di Baitullah. Salah satunya lewat manasik haji bersama yang berlangsung di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Cabang Kabupaten Mojokerto, di Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar, kemarin.

Akan tetapi, tantangan besar yang bakal dihadapi CJH selama di Makkah dan Madinah nanti rupanya bukan hanya soal materi ibadah semata. Ada sejumlah tantangan lain yang cukup berat dan harus diwaspadai CJH agar bisa kembali ke Tanah Air dengan selamat.

Salah satunya adalah tantangan cuaca ekstrem yang diprediksi bakal melanda kawasan Makkah dan Madinah selama musim haji berlangsung. Di mana, suhu udara hingga 50 derajat Celsius tak bisa dihindari seluruh umat muslim selama 40 hari menjalani rangkaian ibadah haji Tanah Suci.

’’Kemungkinan cuaca sangat ekstrem. Dengan asumsi suhu udara bisa sampai 50 derajat Celsius atau bisa lebih,’’ terang Mukti Ali, Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Kabupaten Mojokerto, kemarin.

Nah, untuk bisa melewati rintangan tersebut, Kemenag bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto kini mulai menginventarisir CJH yang kesehatannya berpotensi berisiko tinggi (risti). Upaya inventarisir tersebut dengan mengandalkan hasil rekam medis saat tes kesehatan beberapa waktu lalu. Di mana, dua kali tes tersebut menjadi syarat wajib CJH untuk bisa melunasi BPIH.

Sesuai Permenkes nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah (mampu) kesehatan jamaah haji, CJH yang kesehatannya masuk dalam kategori risti adalah CJH yang usianya sudah menginjak 50 tahun lebih. Artinya, kesehatan CJH tersebut wajib mendapat perhatian khusus dari petugas selama pelaksanaan haji.

Dan dari data sementara yang sudah dikumpulkan Kemenag, terdapat 50 persen lebih CJH yang usianya sudah mencapai 50 tahun. Situasi tersebut tak ayal bakal menambah upaya Kemenag dan dinkes dalam meminimalisir gangguan kesehatan CJH sebelum bertolak ke Tanah Suci.

’’Kalau data resmi soal kesehatan CJH memang belum keluar. Namun, Kemenag dan dinkes sudah memberikan pengetahuan tentang perlengkapan yang harus dibawa. Seperti semprotan wajah, lipgloss, botol air yang fungsinya untuk menghindari dehidrasi saat cuaca panas,’’ pungkas Ali Mukti.

(mj/far/ris/JPR)

Source link