Daun beluntas bisa jadi minuman berkhasiat – Radar Surabaya

IDE ini muncul sekitar setahun lalu. Wakil Ketua Karang Taruna Desa Klurak, Raditya Probo Ratu Nagoro, mengatakan gagasan itu ada saat ada sejumlah mahasiswa yang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut. Para mahasiswa mengajak Karang Tarina berwirausaha untuk meningkatkan ekonomi. “Akhirnya kami putuskan untuk membuat teh dari daun luntas. Karena daun ini sangat melimpah di desa kami,” kata Raditya.

Ia menuturkan awal membuat teh ini tidak bisa langsung. Artinya, daun luntas tetap dicampur dengan daun teh yang asli. Tapi lama-kelamaan, daun luntas dijadikan teh yang asli. Maksudnya tidak menggunakan campuran lagi. “Sehingga warnanya agak hijau kekuningan,” imbuhnya.

Dito, panggilan akrabnya, mengaku untuk bahan baku ia bersama rekan-rekannya mengambil bahan baku daun luntas yang tersebar di desanya. Setelah daun luntas dibersihkan, kemudian dioven selama 2 hingga 3 menit. Proses berikutnya adalah daun luntas diayak (disaring). 

Dari semua proses hingga packagingnya masih manual, sehingga produksinya pun belum maksimal. Per hari mereka hanya mampu membuat 10 -15 bungkus teh yang dijual Rp 8.500. “Tapi ke depan kita berharap teh luntas ini bisa menjadi industri dan bisa melibatkan banyak orang khususnya warga desa kami,” katanya.

Untuk pemasaran, ada kerja sama dengan Karang Taruna desa lain. Mereka dibantu untuk mempromosikan ke desa-desa lain. Selain itu, juga ikut di pameran-pameran UKM yang diselenggarakan Pemkab Sidoarjo. 

Selain itu pemerintah desa sangat mendukung  produksi teh ini. “Sudah masuk dalam produk unggulan BUMDES Klurak dan masuk anggaran tahun 2018,” tambahnya.

Pemuda 28 tahun ini berencana akan berencana menambahkan varian rasa, seperti daun mint dan melati. “Minumnya tetap pakai gula, rasanya hampir mirip es tebu,” pungkasnya. (*/jee)

(sb/rek/rek/JPR)