Anggun Angkawijaya-Wartawan Radar Surabaya

Donjuan, 34, tampak gelisah duduk di ruang tunggu Pengadilan Agama Klas 1 A Surabaya, Kamis (30/11). Berkali-kali dia melihat jam tangannya dan membenarkan posisi duduknya. Sepertinya lelaki asal Bondowoso ini tak sabar mendengar keterangan hakim soal perkaranya. Bagaimana tidak sabar, karena urusan perceraiannya dengan Karin,33, ini telah menguras tenaga dan waktu bapak satu anak tersebut. “Saya sudah capek. Lebih baik cepat selesai agar saya bisa tenang bekerja dan ngurus anak,” ungkap Donjuan, pasrah. 

Dikatakan Donjuan, selama ini dia merasa ditipu oleh mertuanya. “Bagaimana nggak ditipu, Mas. Ternyata Karin nggak cinta sama saya,” kata Donjuan. 

Kenyataan itu diketahui Donjuan saat mereka bertengkar gara-gara anaknya yang gak keurus sekitar enam bulan lalu. “Saya sudah ngempet. Waktu itu sudah puncaknya. Masak, anak malah diurusi sama tetangga? Ya mandi, ya makannya,” beber Donjuan. 

Bukan hanya itu saja. Setelah pertengkaran tersebut, Karin mengungkapkan isi hatinya yang ternyata tidak mencintai Donjuan. “Kalau nggak cinta, kenapa mau saya nikahi? Mestinya kan bilang dari dulu,” ujar Donjuan, kesal. 

Mendengar ucapan itu, akhirnya Donjuan mengantarkan Karin ke rumah orangtuanya di wilayah Kemayoran dan menyatakan perpisahannya. Sedangkan buah hati mereka yang masih berusia dua  tahun, sudah dibawa Donjuan pulang kampung ke Bondowoso. “Mending sama saya, biar otaknya bersih,” tukasnya. 

Diakui Donjuan, pernikahannya dengan Karin karena dijodohkan. Awalnya dia naksir kakak perempuan Karin. Tak tahu kenapa, ketika masih pacaran, malah Karin yang sering menemui dan akhirnya mereka dijodohkan. Memang, wajah Karin lebih cantik dari kakaknya. 

Ketika diminta untuk segera menikah, Donjuan mau-mau saja. Sebab, dia sudah kebelet dan siap materi untuk berumah  tangga. Setahun kemudian, saat  mereka dikaruniai anak, Karin sudah menunjukkan gelagat aneh. Dia sering minggat dari rumah dengan mengajak anaknya.  “Kalau saya tanya, dia bilang bosan di rumah saja,” tutur Donjuan. 

Agar tidak jenuh, akhirnya Donjuan meminta ibunya tinggal bersamanya untuk membantu mengasuh anaknya. Bukannya sembuh, penyakit Karin bertambah parah. Ibunya pun tak sanggup dan memilih pulang ke Bondowoso. “Anak biar saya yang ngurus. Nanti saya titipkan ke orangtua atau adik saya,” kata Donjuan.  (*/opi)

(sb/ang/jek/JPR)