Digarap Hingga Pagi, Cucurkan Air Mata saat Menang – Radar Kudus

Karya yang terkonsep menjadi kunci kemenangan tim MA NU Miftahul Falah 1. Menghadirkan gedung Jawa Pos Radar Kudus dan Polres Kudus, mereka berhasil memberikan pesan bahwa peran media dan aparat sangat penting untuk melawan hoax.  

SYARIFAH Aeni seketika menitikkan air mata saat mendengar nama timnya, MA NU Miftahul Falah I disebut sebagai juara I 3D Wall Magazine Student Festival 2018. Syarifah yang sebagai sekretaris redaksi itu tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

Air matanya terus mengalir karena terharu. Sementara rekan-rekannya sibuk berfoto ria. ”Terharu, Mas. Kerja keras kami terbayar tuntas,” aku Syarifah sembari terus mengusap air matanya.  

Siswi kelas XI itu bercerita bahwa bersama rekan-rekannya baru saja menyelesaikan agenda OSIS di madrasah Kamis (10/5) lalu. Nah, baru Jumat pagi mereka memulai membuat rancangan mading tiga dimensi itu. Tentu, mereka dalam kondisi kelelahan. Sebab mereka yang seluruhnya anggota OSIS menjadi bagian penting di kegiatan sebelumnya di MA NU Miftahul Falah.

Dalam pengerjaan, para siswa yang seluruhnya kelas XI itu membagi dalam dua sesi. Sesi pagi dan sore dikerjakan seluruh anggota. Sementara pengerjaan malam hanya siswa laki-laki saja. Syarifah menyatakan, anggota laki-laki di timnya mengerjakan karya itu sampai jam tiga pagi.

”Mau nggak mau harus lembur. Tapi hanya untuk yang laki-laki. Yang perempuan tidak ikut yang malam,” terangnya.

Dengan panduan dua guru pembina, Mamila dan Asri Nur, keenam siswa itu merancang mading tiga dimensi tersebut. Konsep mereka sebenarnya sederhana. Yakni bagaimana hoax bisa datang dari mana saja dan pihak mana saja yang bisa menangkal hoax.

Adapun enam siswa itu, yakni Hariri (pemimpin redaksi), Syarifah Aeni (sekretaris), Qoifur Rohman (layouter). Tiga lainnya, Rifan Maulana, Santi Muasaroh dan Intan Kusumawati sebagai redaktur pelaksana.

Dalam karya yang akhirnya dipilih menjadi juara itu, hal pertama yang ingin ditampilkan tim ini bahwa hoax bisa datang dari mana saja. Serta, penyebarannya bisa berlangsung sangat cepat. Itu diwujudkan dengan adanya fasilitas umum seperti taman, sekolah, dan stasiun kereta api disertai rel yang menyeberang jembatan.

Jembatan itu di bawahnya mengalir air sungguhan. Ada juga batu dan sebuah kapal di tengahnya yang merepresentasikan itu sebuah sungai besar.

Asri Nur, sang pembina mengungkapkan, aliran air itu dibuat benar-benar mengalir seperti sungai dengan alat penyedot air aquarium. ”Jadi di dalamnya ada selang penyedot seperti yang biasa digunakan di aquarium. Warnanya itu sebelumnya putih. Karena terkena cat alasnya, jadinya biru,” terang Asri.   

Selain jembatan dengan sungai mengalir di bawahnya, karya itu menampilkan bangunan kantor Jawa Pos Radar Kudus dan Polres Kudus. Bangunan kantor Jawa Pos Radar Kudus itu diletakkan di depan sebelah kanan dan menyerupai aslinya. Tepat di depan kantor itu digambarkan terdapat pegawai pria dan wanita.

Di seberang jalan kantor Jawa Pos Radar Kudus, dalam karya itu terdapat taman dengan sebuah kursi di tengahnya. Selain pepohonan yang rindang, batu- juga turut mempercantik taman mini. Tepat di samping taman agak belakang, ada bangunan gazebo.

Bangunan taman dan gazebo itu merepresentasikan bahwa tempat-tempat itu merupakan beberapa tempat yang biasa digunakan publik untuk bercengkrama. Biasanya juga ada bahasan hoax.

Adapun di bagian kiri, terdapat bangunan madrasah mereka sendiri, MA NU Miftahul Falah. Lengkap dengan hadirnya sejumlah siswa. Hal yang ingin disampaikan, selain menjadi tempat menyebarnya hoax di kalangan siswa, juga bisa menjadi penangkal dengan modal pengetahuan-pengetahuan dan ilmu yang diajarkan oleh para guru.

Di bagian belakang sebelah kiri, ada bangunan stasiun beserta menara di sampingnya. Melengkapi bangunan itu, terdapat rel kereta yang menjulur hingga menyeberangi sungai. Pesannya, fasilitas publik menjadi wahana penyebar berita-berita hoax. Bahkan lebih cepat dari kereta yang mampu menyeberangi sungai.

Di seberang sungai atau bagian kanan, karya ini menampilkan bangunan Mapolres Kudus berlantai dua. Ada empat tiang besar di bagian depan, masing-masing dua di lantai satu dan lainnya di lantai kedua.

Hadirnya gedung Mapolres Kudus itu memiliki pesan tersendiri. Bahwa aparat setempat juga merupakan pihak yang menjadi referensi untuk mencari pembuktian dari berita hoax yang beredar di masyarakat.

Terakhir, di bagian belakang, karya majalah dinding tiga dimensi itu menampilkan dinding tinggi yang dijebol dengan kepalan tangan. Di bagian depan kepalan tangan itu, ada sebuah kampanye bertuliskan “Hantam Hoax” .

Asri menyebut, pesan yang ingin disampaikan yakni sekeras apa pun berita hoax disebarkan, harus diperangi hingga mampu tertembus. Nantinya tak termakan hoax lagi. Sejumlah tempat di karya itu juga ditampilkan banyak kampaye antihoax.

(ks/ris/top/JPR)