Dirikan Ponpes Gedongsari usai Riyadah – Radar Kediri

TUNGGU DUHUR: Sejumlah santri Ponpes Gedongsari menunggu waktu salat Duhur dengan lesehan di musala pesantren.
(ANWAR BAHAR BASALAMAH – JawaPos.com/RadarKediri)

Foto: Anwar Bahar Basalamah//

TUNGGU DUHUR: Sejumlah santri Ponpes Gedongsari menunggu waktu salat Duhur dengan lesehan di musala pesantren.

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (13)

Mendirikan Ponpes Gedongsari setelah Beriyadah//

Pendirian pondok pesantren (Ponpes) di Prambon berkelindan dengan Ponpes Langitan Tuban. Selain Kiai Soleh Gondanglegi, salah satu santri yang ikut mengembangkan Islam di Prambon adalah Kiai Imam Mustajab. Dia adalah pendiri Ponpes Gedongsari di Desa Tegaron.

Kiai Imam Mustajab adalah santri dari Kiai Soleh Ponpes Langitan Tuban. Selama hampir 20 tahun, Pria asal Padangan, Bojonegoro itu menimba ilmu di Langitan yang dibimbing oleh Kiai Soleh. Karenanya, Kiai Mustajab dikenal begitu takzim  kepada sang kiai.

Makanya, apa pun perintah Kiai Sholeh, Kiai Mustajab selalu melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, tanpa harus bertanya lagi ke sang guru. “Setiap perintah, langsung dikerjakan. Tidak perlu tanya ini-itu,” kata Kiai Abdul Basith Asnawi, cucu dari Kiai Imam Mustajab.  

Suatu ketika, Kiai Soleh pernah meminta Kiai Mustajab membersihkan WC. Ya, cuma itu perintahnya. Tidak ada yang lain. Dengan  kesungguhan, Kiai Mustajab sampai masuk ke septic tank tanpa melepas peci dan baju santrinya. “Waktu itu, Kiai Soleh sempat heran. Kenapa pecinya tidak dilepas. Kemudian, kata Kiai Mustajab, perintahnya hanya bersihkan WC,” kenang Basith.

Berkat kepatuhannya itu, Kiai Soleh menaruh perhatian pada Kiai Mustajab. Bahkan, selama di ponpes, Kiai Mustajab termasuk santri qodam (membantu urusan rumah tangga ponpes). “Beliau (Kiai Mustajab) orang yang sangat dipercaya oleh Kiai Soleh,” paparnya.

Saking percayanya, Kiai Soleh tidak ragu menjodohkan Kiai Mustajab dengan putri dari Kiai Ahmad Soleh Gondanglegi, Prambon. Setelah lulus dari ponpes, Kiai Soleh meminta Kiai Mustajab mengantarkan surat ke Kiai Soleh Gondanglegi. Waktu itu, Kiai Soleh Langitan memang sengaja tidak memberitahu isi suratnya.

Selama perjalanan dari Langitan Tuban ke Gondanglegi, Prambon, Kiai Mustajab berjalan kaki sambil menuntun kuda. Menurut Basith, saat itu Kiai Soleh Langitan memang tidak pernah memerintahkan untuk menaiki kuda. “Itu saking takzim-nya beliau kepada sang guru. Akhirnya surat diantarkan dengan jalan kaki,” urainya.

Rupanya, dalam surat itu Kiai Soleh Langitan meminta kepada Kiai Ahmad Sholeh Gondanglegi, menantunya, untuk menjodohkan putrinya, yang tak lain juga cucu Kiai Soleh Langitan, dengan Kiai Mustajab. Atas permintaan itu, Kiai Mustajab akhirnya meminang Masrikhanah, putri Kiai Soleh Gondanglegi.

Setelah menikah, Kiai Mustajab sempat tinggal di Gondanglegi. Namun, dia lebih sering melakukan riyadah (mendekatkan diri kepada Allah) di sebuah makam di Dusun Gedong, Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon.

Menurut Basith, makam itu adalah kuburan dari seorang wali Jawa yang tidak diketahui namanya. “Setiap hari, Kiai Mustajab riyadah di sana,” ujarnya.

Setelah beriyadah dan punya bekal ilmu yang tinggi, Kiai Mustajab ingin mendirikan sebuah ponpes di daerah tersebut. Keinginan itu mendapat restu dari Kiai Soleh Gondanglegi. Akhirnya, Kiai Mustajab mendapat sebuah tanah seluas 0,5 hektare.              

Lahan itulah yang jadi tempat mendirikan Ponpes Gedongsari pada 1901. Secara administratif, Ponpes Gedongsari terletak di Desa Tegaron, Kecamatan Prambon. Ponpes itu kini diteruskan oleh cucu-cucunya. (bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

Source link