LUMBANG – Sampai awal Juli 2018 ini. Kabupaten Pasuruan masih belum mengalami puncak musim kemarau. Sementara ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan masih mengirim air bersih ke Desa Cukurguling, Kecamatan Lumbang.

Distribusi air oleh BPBD dilakukan atas kondisi. Pengiriman pun dilakukan di desa yang benar-benar mengalami penurunan debit pda sumber mata air, yang sering dimanfaatkan warga.

Bakti Jati Permana, Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan mengatakan bahwa sampai awal Juli ini memang masih belum sampai pada puncak musim kemarau. Sementara ini, permintaan air hanya lantaran debit air yang menurun.

“Saat ini permintaan air yang masih kami kirimkan yaitu ke Desa Cukurguling, Kecamatan Lumbang. Inipun tidak seluruh desa hanya 2-3 Dusun yang mengalami debit air yang berkurang,” jelasnya.

Bakti mengatakan bahwa kemarau yang terjadi di Kabupaten Pasuruan tahun ini memang terjadi lebih cepat dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, awal musim kemarau pada bulan Mei masih terjadi turun hujan. Sedangkan tahun ini, bulan Mei sudah masuk musim kemarau.

“Terutama di Pasuruan wilayah Utara sampai Timur dari Bangil, Rembang sampai Lekok dan Nguling, sedangkan Pasuruan dataran tinggi Juni- Juli ini justru masih ada turun hujan,” jelasnya.

Sedangkan permintaan air bersih sendiri sudah diminta dari beberapa Kecamatan yaitu Lumbang dan Gempol. Namun untuk pengiriman air tetap melihat kebutuhan dan kedaruratan bencana.

“Sementara ini yang masih kami kirim ke Cukurguling, Lumbang itupun kondisional melihat kebutuhan air bersih disana,” jelasnya.

Dikatakan syarat terjadi bencana, kebutuhan air bersih sendiri hanya untuk kebutuhan makan dan minum. Selama debit air hanya berkurang dan tidak sampai kering dan kurang untuk kebutuhan dasar yaitu makan dan minum, maka belum dinyatakan darurat bencana.

Sedangkan untuk puncak musim kemarau, BPBD masih menunggu informasi dari BMKG. Sementara di awal Juli dikatakan hanya debit air yang berkurang tidak sampai kesulitan air di Kabupaten Pasuruan.

Source link