Dosen ITS Ciptakan Alat Penghitung Bakteri Tuberculosis – Radar Surabaya

Ketut berharap, dengan terciptanya TB-Analyzer, tenaga medis mampu memotong waktu diagnosis. “Saat ini masih perlu waktu lama untuk menghitung jumlah kuman TB,” tutur Ketut,  Senin (15/1). 

Ketut mengungkapkan, selama ini diagnosa tuberculosis masih dilaksanakan secara manual. Dimana dokter dan perawat masih menggunakan mata dengan menghitung adanya bakteri tahan asam (BTA) pada dahak penderita yang diletakkan di atas citra mikroskopik.

Penghitungan dengan cara ini seringkali tidak akurat karena area yang diperiksa sangat luas, sehingga tidak memungkinkan untuk menghitung jumlah bakteri secara teliti. Bayangkan ada 100 area, lalu kita memindahkannya satu-satu dengan tangan. Pasti nanti akan ada yang terlewat entah karena lalai atau lelah,” jelas Ketut.

Berawal dari permasalahan tersebut, Kepala Laboratorium Sinyal Digital ITS ini menggandeng tiga tim dosen lainnya, yaitu  Dr Ir Arman Hakim Nasution dari Departemen Manajemen Bisnis, Dr Supeno Mardi Susiki Nugroho dan Arief Kurniawan dari Departemen Teknik Komputer untuk menciptakan alat penghitung bakteri TBC.

Ketut menuturkan, dibutuhkan waktu tiga tahun untuk melakukan penelitian, sampai akhirnya dihasilkan alat penghitung bakteri tuberculosis yang diberi nama TB-Analyzer: Smart System to Count Tubercolosis Bacterial on a Sputum Smear Automatically. 

“Alat ini merupakan perpaduan antara aplikasi perangkat keras dan perangkat lunak untuk melakukan analisis citra mikroskopik,” ungkap Ketut.

 Lulusan University of Groningen ini menjelaskan, bagian perangkat keras terdiri dari komputer jinjing yang terhubung ke mikroskop digital. Pada bagian aplikasi, program diciptakan agar  mampu menginstruksikan motor untuk bergerak dan mendapatkan fokus pada bakteri. Tujuannya untuk mendapatkan puluhan gambar yang tidak tumpang tindih.

 “TB-Analyzer ini memiliki kemampuan yang akurat dan kuat dalam menghitung ratusan gambar bakteri, serta mampu menghitungnya dalam berbagai macam skala gambar. Tapi alat ini masih dalam tahap penyempurnaan,” pungkasnya. (ang/nur) 

(sb/ang/jek/JPR)