Dua Bulan di Pengungsian, Kemensos Ingatkan Kondisi Psikis Anak – Radar Bali

Kondisi psikis anak pun dikhawatirkan semakin terguncang, dibanding kondisi psikis dewasa.

Kementerian Sosial pun menggelontor sejumlah bantuan serta memboyong puluhan anggota Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos), untuk memulihkan kondisi psikis anak.

Sore kemarin, ratusan anak-anak yang ada di sekitar Desa Tembok, diboyong ke posko pengungsian Camp Agung 5 Desa Tembok. Mereka disuguhkan sejumlah hiburan agar tak stress.

Mulai dari sulap, serta sejumlah permainan-permainan lain yang dilakukan oleh para pekerja sosial, lewat program Pondok Ceria.

Harapannya agar anak-anak kembali ceria dan tak jenuh dengan kondisi di pengungsian. Tak hanya itu, para pengungsi, khususnya anak-anak juga digelontor bantuan dari Kemensos.

Bantuan itu berupa peralatan sekolah, selimut, dan alat-alat MCK. Bantuan itu diserahkan oleh Dirjen Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Kementerian Sosial, Marjuki, yang didampingi Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Nahar.

Kepala Dinas Sosial Buleleng Gede Komang mengatakan, beberapa pekan sejak menghuni kamp pengungsian, kondisi psikis anak-anak memang merosot.

Banyak anak-anak yang stress dan kehilangan keceriaan, karena terpisah dengan teman-temannya serta berada jauh dari lingkungan tempat tinggalnya.

Selama ini Dinsos Buleleng bersama Sakti Peksos pun sudah keliling ke sejumlah kamp pengungsian untuk melakukan rehabilitasi sosial.

“Kami motivasi agar mereka mau belajar terus, mau sekolah. Itu yang utama,” kata Gede Komang.

Dirjen Rehsos, Marjuki mengungkapkan, saat mengungsi anak-anak akan merasakan dampaknya, terutama dari sisi psikis.

Apalagi anak-anak yang mengungsi di Desa Tembok, sudah mengungsi selama hampir dua bulan.

“Anak-anak yang tadinya bersatu sama keluarga, teman-temannya di lingkungan, sekarang dia terpisah.  Tentu dampak pengungsian itu sendiri bagi anak-anak sangat luar biasa,” kata Marjuki.

Atas kondisi tersebut, Kemensos menyatakan pendampingan psiko sosial mutlak diberikan. Sehingga anak-anak bisa beradaptasi dengan lingkungannya yang baru, terutama lingkungan sekolah.

Anak-anak pun bisa melaksanakan tugas-tugas sekolahnya. Jangka panjang, anak-anak bisa melepaskan trauma yang terjadi akibat bencana tersebut.

“Kami sengaja bawa Pondok Ceria ini, agar mereka tetap ceria. Anak-anak ini kami harapkan tetap melakukan kegiatan seperti biasa,” imbuhnya.

Dari hasil kunjungannya ke Desa Tembok, Marjuki menyatakan semua hal sudah dikelola dengan baik.

Bahkan masyarakat sangat terbuka dan mempersilahkan para pengungsi tinggal di rumahnya masing-masing. Sehingga penanganan pengungsi menjadi lebih menyeluruh.

Untuk diketahui, jumlah pengungsi di Desa Tembok kini mengalami penyusutan besar. Pengungsi yang semula berjumlah 7.157 jiwa, kini turun menjadi 457 jiwa.

Dari jumlah tersebut, hampir separonya adalah anak-anak. Tercatat ada 250 orang anak-anak asal Desa Ban dan Dukuh yang masih mengungsi di Desa Tembok. 

(rb/eps/mus/mus/JPR)

Source link