Dua Jambret Geng Karangasem Didor, Dipamerkan ke Publik di Ground Zero – Bali Express

“Mereka baru bebas tanggal 17 November tahun lalu. Dan sudah beraksi di 13 TKP,” terang Kapolsek Kuta Kompol I Nyoman Wirajaya saat rilis kasus di Monumen Bom Bali atau Ground Zero Kuta kemarin (29/1).

Keduanya sengaja diperlihatkan ke publik dalam kondisi kaki pincang lantaran ditembak supaya memberikan pelajaran bagi para pelaku lainnya yang menekuni pekerjaan yang sama dengan mereka. “Sewaktu dilakukan pengembangan, mereka berniat melarikan diri. Jadi kami tembak,” terangnya.

Berawal dari laporan korbannya Meng Lan, 36, yang saat hari kejadian Sabtu (20/1) sekitar pukul 18.00 pergi menikmati suasana wilayah Kuta dengan mengendarai sepeda motor. Saat melintas di Jalan Blambangan Kuta sekitar pukul 21.30 wita, korban didekati oleh kedua pelaku yang berboncengan menggunakan motor Yamaha NMAX abu – abu. Lantas pelaku menatik tas korban yang berisi uang kertas 303 yuan, handphone dan beberapa barang berharga lainnya. “Korban sempat mengejar, namun kehilangan jejak,” imbuhnya.

Pihak kepolisian yang mendapatkan laporan tersebut kemudian langsung menuju TKP. Dati rekaman CCTV akhirnya petugas mengantongi identitasnya. Barulah pada Senin (22/1) sekitar pukul 13.30 pelaku diketahui sedang berapa di kosnya di Jalan Juwet Sari Gang Mawar Blok F Desa Suung Kauh, Denpasar Selatan. Setelah petugas memastikan keberadaan pelaku, kemudian diamankan.

“Identitasnya juga diketahui dari handphone curian salah satu korban lainnya yang sudah dijual. Hasilnya dibagi rata keduanya. Digunakan nyicil motor,” jelasnya.

Dari hasil interogasi, pelaku mengaku beraksi di 13 TKP, di antaranya sepanjang Jalan Sunset Road, Jalan Bay Pass Ngurah Rai, Jalan Majapahit, Jalan Mertanadi, dan Jalan Blambangan.

“Sasarannya orang asing semua yang keluar malam biasanya. Bahkan beberapa korbannya terjatuh dari motor saat dijambret. Luka – luka sampai patah tulang. Ada yang ditarik lehernya. Informasi salah satu korbannya mengalami kondisi cukup parah dan berobat di RS BMIC,” jelasnya.

Kemudian saat kepolisian melakukan pengembangan dengan mengajak pelaku menunjukkan TKP dekat Sungai Tanah Kilap, keduanya justru berupaya kabur. Hingga akhirnya mendapatkan tindakan tegas berupa timah panas yang bersarang di kaki kiri kedua pelaku.

“Di sungai Tanah Kilap tersebut disebut pelaku sebagi tempat pembuangan paspor, tas dan dokumen lainnya. Sindikatnya masih kami kejar. Identitasnya sudah kami kantongi,” jelasnya.

Beberapa bafang bukti yang dikantongi di antaranya uang tunai Rp 2 juta, uang kertas 303 Yuan, 1 unit AC, sepeda motor NMAK yang dikreditnya dari hasil pencurian dan beberapa unit handphone. Kini pelaku disangkakan Pasal 363 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara. 

(bx/afi/bay/yes/JPR)

Source link