Dua Malam 11 Penumpang KLM Mutiara Terombang-ambing – Radar Madura

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM), KLM Mutiara Banyuwangi berangkat dari Pelabuhan Boom Bayuwangi Rabu (4/7) sekitar pukul 16.00. Kapal milik H Sardani tersebut mengangkut sembako dan sebelas orang. Di antaranya, Tasri, Sunaryo, Rahim, H Rajuni, Hairuddinn, Samsul, Eko, Salmia, Ibnu, dan Muslimin selaku nakhoda serta seorang balita berumur sekitar 4–5 tahun.

Famili penumpang Abd. Latif, warga Desa Tanjungkiaok, Kecamatan Sapeken, menuturkan, kapal diterjang ombak besar. Sehingga, air laut masuk ke dalam kapal. Sekitar 25 mil dari Banyuwangi mesin kapal mati.

”Terakhir ada info meminta pertolongan karena posisi mesin macet atau mati. Rabu malam sekitar pukul 19.00 dicari oleh tim dari Banyuwangi. Tapi belum ada perkembangan,” tuturnya.

Pria 48 tahun itu mendapatkan informasi kapal hampir terdampar di Pulau Raas. Informasi itu diketahui karena salah satu penumpang menghubungi pemilik kapal dan beserta keluarga. Jumat (6/7) sekitar pukul 06.00 kemarin Kapal Takat Noko, Desa Guwa-Guwa, Raas.

Latif langsung meminta bantuan kepada pihak terkait. Sebab,  daya baterai handphone (HP) penumpang sudah habis. Hanya satu yang masih aktif. ”Kami pihak keluarga meminta tolong kepada pemerintah karena (penumpang) tidak mampu menguras air yang masuk ke kapal. Mesin alkon sudah mati. Menguras itu pakai timba,” tuturnya.

Pihaknya kecewa kepada pemerintah karena hingga sore bantuan tidak datang. Sehingga, nelayan serta famili di Pulau Tonduk dimintai bantuan. Kemarin sore posisi ada di antara perairan Pulau Tonduk dan Raas. ”Sampai saat ini (6/7 sore) belum ada bantuan sama sekali,” sesalnya.

Koordinator Pos Siaga SAR Banyuwangi Rizki Putra Buana mengatakan, informasi yang diterima, posisi kapal ada di Guwa-Guwa. Saat ini, kata dia, mereka dijemput oleh nelayan dan keluarga.

Rizki menjelaskan, saat mendengar informasi itu pihaknya berkoordinasi dengan pihak terkait. Sebab, cuaca saat itu buruk. Tim sempat melakukan pencarian. Namun, belum sampai ke lokasi tim balik karena cuaca buruk. ”Penyeberangan dari Gili Manuk-Ketapang sempat dihentikan karena cuaca buruk. Dari kemarin (Kamis) dan hari ini (Jumat) dari Sapeken ke Banyuwangi juga tidak ada aktivitas,” jelasnya.

Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi mengatakan, kecelakaan laut merupakan kewenangan Basarnas. Ketika pihaknya mendengar informasi langsung menghubungi Basarnas supaya melakukan pencarian. ”Kami juga tidak memiliki sarana dan prasarana. Kecelakaan di laut Basarnas. Ada kapal hilang ya Basarnas,” tutupnya.

Sementara itu, ratusan penumpang tujuan Masalembu yang tertahan di ruang tunggu Pelindo III Kalianget sudah pulang ke rumah masing-masing.

Berdasar keterangan BMKG, cuaca laut cukup normal. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Kalianget mengizinkan operator kapal berlayar. Pihaknya memastikan bahwa kapal-kapal tersebut akan berlayar dengan aman. ”Sudah berangkat tadi pagi,” terang Kasi Keselamatan Penumpang KSOP Kelas V Kalianget Welliyanto.

Tiga kapal berangkat kemarin pagi. Yakni, KM Sabuk Nusantara 115, KM Satya Kencana, dan KM Dharma Kartika. Ketiganya berangkat dengan ratusan penumpang yang sebelumnya sempat tertahan. Sedangkan pada sore hari, dari Pelabuhan Kalianget juga berlayar KM Dharma Bahari Sumekar. ”Semoga cuaca tetap baik untuk hari-hari ke depan,” tambahnya. 

(mr/luq/rul/mam/bas/JPR)