Dua Sisi Siamin – Radar Bromo

SEHARI-hari Siamin dikenal sebagai juru kunci makam di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol. Sisi lainnya adalah seniman ludruk dan kuda lumping. Profesi yang sudah puluhan tahun digelutinya.

——————–

Usianya sudah tak lagi muda. Sudah menginjak 61 tahun. Orang-orang mengenalnya sebagai juru kunci kuburan Dusun Sukci di Desa Bulusari. Meski usianya sudah lanjut, fisiknya masih sehat. Ini, terlihat dari badannya tetap tegap.

Suami dari Sumarni, 60, ini seringkali berpakaian nyentrik. Entah itu memakai blangkon ataupun baju lurik. Orang-orang lebih sering memanggilnya dengan nama Mbah Min.

“Di kampung, saya dikenal sebagai juru kunci makam dusun. Tapi, juga banyak yang tahu sebagai seniman ludruk dan kuda lumping,” kata bapak tiga orang anak itu.

Seni ludruk maupun kuda lumping, ternyata digelutinya sudah sejak masih muda dulu. Persisnya saat usianya masih 18 tahun. Dia pertama kali bergabung dengan grup ludruk Irama Jaya, di Dusun Legupit, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol. Dia pun pernah bergabung dengan grup kuda lumping Turonggo Sakti Mayang Seto di Desa Carat, di kecamatan yang sama.

“Saya lebih dulu geluti kuda lumping. Saat itu masih membujang. Dua tahun berikutnya atau setelah berumah tangga, baru bergabung menjadi pemain ludruk,” imbuhnya sembari tersenyum.

Saat itu, Siamin muda sering berperan menjadi pemain. Terutama jika memainkan ludruk. Beberapa kali pentas, dia tak pernah ketinggalan ikut tampil ambil bagian. Seperti tanggapan acara sedekah desa, hajatan, dan lain sebagainya.

Tak hanya di sekitaran Pasuruan. Seringkali dia keluar daerah, seperti Mojokerto, Sidoarjo, hingga Malang. Bahkan, di panggung pernah pula tampil bersama sejumlah pemain ludruk ternama lainnya di Jatim. Seperti, Kartolo dan Njoto.

Sebagai pemain ludruk maupun kuda lumping, ia tak memikirkan besaran uang yang ia dapatkan dari pentas. Baginya, yang penting bisa eksis atau tampil di setiap kali ada pementasan.

“Bayarannya sedikit, pernah pula tak dibayar. Saya sih biasa saja. Terpenting tampil karena senang dan sudah menjadi panggilan jiwa. Soal rezeki, ada yang ngantur,” tuturnya.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, tanggapan kuda lumping maupun ludruk juga tak seramai dulu. Hanya momen tertentu saja dan setahun dapat dihitung dengan jari.

Namun, Siamin pilih tetap eksis dan tampil. Apabila dirinya dibutuhkan dan diminta ikut dalam pagelaran maupun hajatan, dia pasti mengiayakan. Itu pun jika ada.

Untuk ludruk, hingga saat ini tetap menjadi pemain. Seringkali dia berpindah-pindah dengan bergabung bersama grup ludruk yang ada dan dikenalinya. Sementara untuk kuda lumping, dia kini lebih banyak berperan menjadi pengarah sekaligus pelatih. “Saya sudah tidak menjadi pemain lagi,” katanya.

Kalau tanggapan sedang sepi, dirinya pilih istiqamah menjadi juru kunci makam di TPU dusunnya tinggal. Ini, digelutinya sejak 1998 lalu hingga sekarang.

“Saya sengaja tetap eksis sebagai seniman ludruk dan kuda lumping. Paling tidak bisa ikut melestarikannya,” ucap penyuka nasi goreng tersebut. Apalagi, eksistensinya yang mantap menjadi pemain ludruk dan juga kuda lumping, didukung luar biasa oleh istri dan ketiga anaknya.

“Kedua kesenian tersebut akan saya geluti terus sampai tua, atau sampai benar-benar fisik ini sudah tak mampu lagi melakukannya,” ungkapnya.

Source link