Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, untuk pasar ekspor mebel yang mendominasi adalah Amerika. Menurutnya, salah satu faktor utama bisa meningkat signifikan 9 persen adalah berkat pameran IFEX Maret lalu banyak yang terealisasi pengirimannya ke lebih 100 negara. 

Apabila dirinci, furniture dengan bahan kayu mampu tumbuh sebesar 5 persen. Kemudian Rotan tumbuh 13 persen. Lalu Logam tumbuh 10 persen. Bambu mengalami penurunan 15 persen. Dan untuk kerajinan tumbuh 8 persen.

“Sampai akhir tahun ini kami punya target nilai ekspor furniture bisa tembus USD 2 miliar dan kerajinan USD 900 juta,” terangnya.

Di samping itu, Abdul juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menargetkan ekspor mebel pada 2019 mampu mencapai USD 5 miliar. Dengan rincian USD 3,2 miliar untuk mebel dan USD 1,8 milyar untuk kerajinan.

“Sebenarnya angka sebesar itu masih amat sulit dicapai untuk kondisi seperti sekarang. Masih banyak kendala,” ujarnya.

Abdul menjelaskan, hambatan yang harus ditanggung seperti bunga bank yang masih tinggi, kesulitan bahan baku, SVLK, dan kerumitan impor bahan baku untuk tujuan ekspor. Sebab menurutnya permasalahan seperti itu membuat industri nasional tertinggal. Padahal menurutnya, negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia justru tumbuh dengan baik.

“Oleh karena itu kami minta dukungan penuh kepada pemerintah terutama regulasi yang memberatkan hapuskan. Buatlah regulasi yang membuat pertumbuhan,” tegasnya. (cin/rud)

(sb/cin/jek/JPR)