Ekspor Perhiasan dan Permata Turun 22,63 Persen – Radar Surabaya

SURABAYA – Badan Pusat statistik (BPS) Jawa Timur merilis nilai ekspor nonmigas, khususnya komoditas perhiasan dan permata mengalami penurunan sebesar 22,63 persen. Nilai ekspor komoditas tersebut bulan ini sebesar USD 202,19 juta, turun sebesar USD 59,14 juta jika dibandingkan dengan nilai transaksi bulan sebelumnya yang mencapai USD 261,33 juta.

Kepada Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Teguh Pramono mengatakan, meski nilai ekspornya mengalami penurunan, perhiasan dan permata tetap menjadi komoditas utama ekspor nonmigas bulan Mei 2018. Menurutnya, perhiasan dan permata berkontribusi sebesar 12,04 persen pada total ekspor nonmigas Jawa Timur bulan ini. Dan disusul oleh komoditas kayu atau barang dari kayu sebesar USD 132,97 juta serta lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar USD 114,85 juta.

“Meski ekspor nonmigas pada bulan Mei mengalami kenaikan sebesar 115,49 persen dibandingkan dengan bulan April. Nilai ekspor komoditas perhiasan dan permata mengalami penurunan,” terangnya di Surabaya, Senin (25/6).

Teguh menjelaskan, secara kumulatif selama periode Januari-Mei 2018, komoditas barang perhiasan dan bagiannya, dari logam mulia atau dari logam yang dipalut dengan logam mulia juga merupakan komoditi ekspor dengan nilai terbesar, yakni USD 817,07 juta dengan peranan sebesar 9,58 persen dari total ekspor jawa Timur selama periode tersebut.

Selain itu, Singapura menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor nonmigas mencapai USD 551,71 juta atau sebesar 4,31 persen. Sementara, emas dalam bentuk bongkah, ingot atau batang tuangan menjadi komoditas impor dengan nilai tertinggi pada bulan Mei 2018.

“Kontribusi komoditas tersebut sebesar USD 107,86 juta yang naik 1.183,28 persen dibanding bulan sebelumnya dengan nilai impor sebesar USD 107,86 juta,” tandasnya.

Teguh menambahkan, komoditas tersebut utamanya diimpor dari Singapura dengan nilai sebesar USD 91,65 juta. Sementara, neraca perdagangan Jawa Timur selama bulan Mei 2018 mengalami defisit sebesar USD 596,90 juta. Hal ini disebabkan karena adanya selisih perdagangan yang negatif pada sektor nonmigas maupun migas. Sehingga secara agrerat menjadi defisit.

Menurutnya, sektor nonmigas mengalami defisit sebesar USD 221,89 juta. Secara kumulatif selama Januari hingga Mei 2018, neraca perdagangan Jawa Timur juga masih defisit sebesar USD 1,56 miliar. Sedangkan sektok nonmigas mengalami defisit sebesar USD 0,24 miliar dan sektor migas mengalami defisit sebesar USD 1,32 miliar.

“Meski mengalami defisit. Neraca perdagangan Jawa Timur masih menunjukkan tren yang positif,” pungkasnya. (cin/rud)

(sb/cin/jay/JPR)