Fenomena Maraknya Kekerasan Seksual terhadap Anak – Radar Jember

Tahun 2017, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Jember mencatat laporan yang masuk padanya  sebanyak 39 kasus. Dibanding tahun sebelumnya 2016, tercatat ada 60 korban kekerasan. Bahkan, tahun 2015 lalu sebanyak 77 kasus. 

Bahkan, para pekerja sosial Kemensos RI di Jember melakukan pendampingan korban kekerasan seksual anak tidak terlalu banyak. Sebab, banyak yang tidak melaporkan dan tidak mau didampingi.  Tahun 2015 lalu terdapat 13 korban yang didampingi, tahun 2016 sebanyak 10 anak dan tahun 2017 terdapat 14 anak. 

Kasus kekerasan itu memang memprihatinkan. Sebab yang menjadi korban  mayoritas masih anak-anak. Mulai dari pencabulan hingga pemerkosaan, kekerasan psikologis, fisik hingga anak terlibat  hukum. Ironisnya, pelaku merupakan orang terdekat korban.

Mulai dari ayah tiri, paman, tetangga hingga teman sendiri. Contoh kecil, di Kecamatan Ledokombo, seorang ayah tega melakukan hubungan seksual dengan anaknya sendiri. Bahkan, awal Februari 2017 lalu, bapak tiri melakukan kekerasan seksual pada anaknya. 

Wiwik Supartiwi, Kabid Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Dinas P3A dan KB Jember mengatakan jumlah kekerasan  itu berdasarkan yang melaporkan. Sebab, pihaknya bergerak pasif, tidak mencari anak yang mengalami kekerasan, namun hanya menerima laporan saja melalui Pusat Perlindungan Terpadu (PPT). 

“Tiga puluh delapan kasus itu hanya yang melaporkan, padahal fenomena ini seperti gunung es,” katanya ketika ditemui di ruang kerja. Menurut dia, banyak yang tidak melaporkan karena malu, sebab dinilai merupakan aib keluarga. Kemudian, tidak berani karena yang melakukan kekerasan merupakan keluarga terdekat. Selain itu, tidak tau cara melaporkannya. 

Kekerasan  terhadap anak tak hanya kekerasan seksual. Tetapi kekerasan psikis dan fisik juga termasuk di dalamnya. Namun, yang mendominasi adalah kekerasan seksual. “Ada juga yang tidak punya bukti untuk melaporkan atau takut diancam,” jelasnya.

Wiwik menilai kekerasan itu terjadi karena rendahnya pendidikan seksual. Bagi masyarakat, pendidikan seksual masih tabu sehingga banyak yang tidak mengerti. “Banyak yang menganggap enteng pendidikan seksualitas,” tambahnya.

Akibatnya, ketika anak diperlakukan tidak senonoh, dia tidak bisa berbuat banyak. Sebab, tidak tau apa yang harus dilakukan. Selain itu, mindset masyarakat tentang pendidikan seksual masih sebatas tentang hubungan seksual. 

Padahal lebih dari itu, misal menjelaskan organ-organ tubuh yang harus dilindungi merupakan pendidikan seksual. Menjelaskan kenapa harus memakai baju, kenapa tubuh harus dilindungi, kenapa tidak boleh disentuh dan lainnya. “Bila anak paham bagian mana yang tidak boleh disentuh, ketika ada yang menyentuh mereka akan berontak,” tuturnya.

Waktu yang tepat untuk memberikan pendidikan adalah ketika anak sudah bisa membedakan jenis kelamin. Saat  itulah dia harus mendapat materi pendidikan seksual. Sebab, mereka akan berhadapan dengan lawan jenisnya dalam pergaulan sehari-hari, baik di sekolah atau di lingkungan sekitar. 

Sayangnya, pendidikan seksual masih rendah dan tidak menjadi prioritas utama. Seharusnya, pendidikan itu dilakukan oleh orang terdekat, terutama orang tua. “Namun, orang tua juga tidak paham tentang pendidikan seksual anak,” imbuhnya. Sehingga pendidikan seksual tak hanya penting bagi anak, tetapi juga orang tua. 

Kepala Bidang Sekolah SD SMP Dispendik Jember Krisnowaty Deby menambahkan, pendidikan seksual di sekolah memang tidak dilakukan secara khusus. Namun, dalam kegiatan kepramukaan sudah dikenalkan dalam satuan terpisah, laki-laki sendiri, perempuan sendiri. “Di kelas juga ada materi diriku, di sana dikenalkan organ tubuh,” terangnya.  

Sejak awal, para pelajar juga dikenalkan dengan organ intim yang tidak boleh dilihat orang lain dan harus dijaga. “Kamu dikatakan laki-laki, karena punya itu, itu karunia Allah yang harus dijaga,” jelasnya. Hanya saja, tidak semua guru menerapkan hal itu sehingga tidak tersampaikan secara menyeluruh. 

“Tidak semua guru ikut pramuka,” ujarnya. Menyikapi maraknya kekerasan seksual tersebut, pihaknya bekerja sama dengan kepolisian untuk mencegahnya. Selain pencegahan narkoba, juga kekerasan seksual. 

Sebenarnya, ada sinergi yang terputus antara Dispendik dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Jember, yakni pencinta remaja. “Namun di Jember sudah mati, itu untuk penyuluhan untuk remaja,” imbuhnya.

Yulia Ayu Indriani, pekerja Sosial Jember Kemensos RI menambahkan, pelaku dan keluarga korban seringkali adalah keluarga yang memiliki pendidikan rendah. Selain itu, juga ekonomi yang di bawah rata-rata. “Mereka tak mengerti apa itu pendidikan seksual,” jelasnya. 

Dampaknya, kata dia, pendidikan  anak yang mengalami kekerasan kerap mengalami gangguan. Mereka berhenti melanjutkan studi, sehingga masa depannya semakin buram. “Kami datang mencoba menyembuhkan trauma yang dialami mereka,” jelasnya. 

Sebab, tak mudah bagi anak untuk kembali ke lingkungan sosial, terutama sekolah. Mereka yang tidak mau kembali ke sekolah asal, bisa melanjutkan di sekolah lain. Di Jember, ada sekitar 30 Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang menerima mereka untuk sekolah. Saat mereka ingin pindah sekolah, bisa ke lembaga tersebut. 

“Namun diantara jumlah itu, hanya tiga yang menampung anak yang menjadi korban kekerasan,” jelasnya. Di sana, semua kebutuhan anak ditanggung, mulai dari biaya pendidikan, makan, dan lainnya, sehingga masa depan korban bisa menjadi lebih baik.

(jr/gus/sh/das/JPR)

Source link