Fisik dan Mental Bagus Jadi Syarat Utama Gogor Sejati – Radar Surabaya

Ketua Gogor Sejati, Fathur Rozi mengatakan, organisasi yang dipimpinnya ini lahir pada 2009 dengan nama Gogor Surabaya. Sempat vakum beberapa saat, komunitas penggiat alam bebas tersebut kembali berdiri pada 2014. Namun di kelahiran keduanya tersebut ada perubahan nama. Tidak lagi menggunakan kata Surabaya di belakangnya. Melainkan menggantinya dengan kata Sejati. 

“Sempat vakum dahulunya. Karena kesibukan masing-masing, akhirnya sepakat divakumkan beberapa bulan. Hingga akhirnya saya berpikir untuk membangkitkan lagi komunitas ini,” ujar Rozi, Jumat (27/4). 

Keinginan Rozi mengaktifkan lagi organisasi ini sempat mendapat penolakan dari beberapa anggota. Mereka tidak ingin nama yang dipakai setelah sempat tidak beraktivitas, sama dengan sebelumnya. Setelah melewati beberapa perundingan, akhirnya kelompok tersebut resmi berdiri lagi. Tetapi dengan menggunakan nama Gogor Sejati. “Saya usulkan nama Gogor Sejati dan mereka setuju,” jelasnya. 

Dalam merekrut anggota baru harus mengikuti diklat sebagai persyaratan sebelum diangkat menjadi anggota. Tidak seperti organisasi hobi yang lain, untuk berkecimpung di dalam dunia alam bebas setidaknya ada bekal yang dimiliki. Dan diklat inilah menjadi pembekalan pertama sebelum para anggota baru turut serta dalam sebuah pendakian. 

“Diklat kami berikan sesuai materi. Ada dua sesi, satu dalam ruang dan kedua di luar ruangan. Ketika materi dalam ruangan, yang diberikan adalah tentang navigasi, survival, tali temali dan ada beberapa lagi. Kemudian itu diterapkan di lapangan,” jelasnya kepada Radar Surabaya. 

Hampir di seluruh daerah, ungkap Rozi,  keanggotaan di komunitas dan organisasi pecinta alam selalu diawali dengan diklat. Di sana anggota baru diajari bagaimana menghadapi situasi yang tidak terduga ketika melakukan pendakian atau petualangan. Mengingat medan yang dihadapi cukup membahayakan jika tak disertai dengan pengetahuan bertahan di alam bebas. 

Tetapi yang membedakan dengan organisasi pecinta alam lainnya, diakui Rozi adalah di diklat tidak ada status senior dan junior. Ini setidaknya menghapuskan senioritas yang sering dibarengi dengan kekerasan. “Memang soal hukuman kedisiplinan tetap ada bagi mereka yang melanggar. Karena kedisiplinan ini adalah kunci utama. Tapi kami hindari kontak fisik, paling dengan push up dan lain sebagainya. Karena yang paling utama adalah bagaimana menumbuhkan mental dan kekeluargaan kepada anggota baru,” urainya. 

Secara resmi, menurut Rozi, anggota dari Gogor Sejati tidak terlalu banyak. Setidaknya ada 20 orang. Jumlah tersebut sudah cukup bagi organisasi pecinta alam di luar lembaga pendidikan seperti kampus. Karenanya  untuk bisa menjadi anggota sebelumnya harus ada keinginan kuat atau visi dan misi bagaimana membawa organisasi kedepan. Tidak hanya sekadar jadi anggota, tapi aktif membawa komunitas di setiap kegiatan.  

“Kegiatan kami ada banyak, di antaranya adalah latihan panjat seminggu sekalli di Benowo, Kakek Bodo (Tretes, Pasuruan). Serta mendatangi undangan penanaman pohon. Tentunya naik gunung,” ungkapnya. 

Untuk naik gunung tidak ada agenda khusus, kecuali anggota baru. Bagi mereka yang baru bergabung, untuk mendapatkan scraft harus melakukan pendakian dengan ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut (mdpl). “Dil uar itu, ya melakukan pendakian secara perkelompok,” tandasnya. (bae/opi)

(sb/bae/jek/JPR)