KABUH – Para tengkulak tembakau saat ini kehilangan kepercayaan dari petani utara Brantas. Pasalnya, banyak tengkulak bertindak nakal lantaran tembakau basah yang mereka bawa, seringkali tidak dibayar secara penuh.

Akibatnya, petani pun memilih menjemur sendiri untuk menghindari kerugian.

Parjin, 55, petani tembakau di Dusun Wadung, Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang menyebut penjemuran yang dilakukan tengkulak seringkali merugikan petani.

“Selama ini permainan tengkulak sudah sangat meresahkan. Karena tembakau basah kami keringkan sendiri saja, sebab kalau dikeringkan tengkulak bisa tidak dibayar lunas,” keluhnya kemarin (22/8). 

Setelah itu daun tembakau terbaik yang sudah kering, lalu dijual ke pabrik dengan harga antara Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu per kilo. Pada situasi ini petani seringkali bernasib apes, karena harus berurusan dengan tengkulak nakal.

Mereka tidak menjalankan bisnis secara profesional. Seringkali sisa kekurangan uang itu tidak dibayarkan kepada petani secara utuh.

“Saya sudah sering mengalami kejadian seperti itu. Bahkan ada teman saya yang belum menerima pelunasan sampai Rp 50 juta,” imbuhnya.  

Pernyataan sama disampaikan Paidi, 65, petani tembakau asal Dusun Bogo, Desa Kedungjati, Kecamatan Kabuh. Ia mengaku pernah tidak menerima pelunasan tembakau dari tengkulak hingga Rp 6 juta.

Uang senilai itu bagi Paidi sangat berarti, sebab hanya dengan bertani ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pernah berurusan dengan tengkulak nakal membuatnya enggan menyerahkan tembakau basah kepada tengkulak.  “Tembakau dijual ke pabrik dalam kondisi sudah kering. Ada uang ada barang, dan harus langsung lunas,” pungkasnya.

(jo/mar/bin/JPR)

Source link