Gas Beracun Sulit Diprediksi – Radar Jember

“Selain itu, ditambah jumlah volume air yang juga meningkat karena turun hujan,” kata kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember, Setya Utomo. Menurut dia, gas tersebut bisa sering terjadi meskipun tanpa diketahui kapan terjadinya. 

Air dari kawah itulah yang mengalir ke sungai Kalipahit. Dari bawah air panas dan menguap. Uapan air tersebut mengandung asam sulfat atau H2SO4. “Kalau itu dihirup, pasti sesak napas dan mual,” ucapnya.

Di 2018, ini kali pertama terjadi di gunung Ijen. Meskipun tahun 2017 juga pernah terjadi hal serupa. Sayangnya, BKSDA tidak bisa memberikan detail berapa kali jumlah munculnya gas beracun tersebut karena sedang berada di gunung Ijen. 

Dia menambahkan selain karena air kawah meningkat. Juga karena gas Solfatara ada terus. Ada yang terbakar dan ada juga yang tidak terbakar. “Gas Solfatara ada terus, tersublimasi menjadi gumpalan belerang,” ujarnya. 

Namun, lanjut dia, tidak semua gas Solfatara menjadi belerang, ada yang naik ke atas menuju atmosfir. Kemudian, ada yang saat hujan turun ke bawah. “Itulah yang menyebabkan gas beracun juga,” paparnya. 

Ditambah lagi ada tambahan letupan dari bumi yang memunculkan gas. Beberapa faktor itulah yang menyebabkan gunung Ijen mengeluarkan gas beracun dan membuat beberapa warga mengungsi. “Suhu air kawah diukur tiap hari,” ucapnya. 

Agar tidak menimbulkan bencana, BKSDA Wilayah III Jember menutup pendakian ke gunung Ijen. Bila sudah ada rekomendasi dari pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi untuk dibuka, maka akan dibuka. “Sampai kapan dibuka lagi, masih belum tahu,” tuturnya. 

Sementara itu, Tanti, dosen Ilmu Kimia Fakultas MIPA Universitas Jember menambahkan, semua gunung berapi mengeluarkan belerang dioksida. “Kemungkinan gas beracun di kawah Ijen itu SO2 sulfur dioksida,” katanya ketika dihubungi melalui handphone, kemarin, 

Bila konsentrasinya tinggi, maka berbahaya karena banyaknya gas di udara. Jika dihirup melebih ambang batas berbahaya. Berbeda dengan penambang yang sudah terbiasa. “Hal ini bisa diatasi dengan minum air dan susu yang banyak,” pungkasnya.

(jr/gus/hdi/das/JPR)

Source link