Gereja Merah, Paduan Keindahan dan Kedamaian – Radar Kediri

Menjulang tinggi membelah langit Kediri. Itulah wajah Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, atau yang biasa disebut oleh Gereja Merah. Gereja tersebut menjadi salah satu landmark Kota Kediri yang patut dibanggakan. Tidak hanya dari sisi arsitekturnya yang bergaya neo-gothik. Umur Gereja ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

KHAS: Bagian dalam Gereja Merah.
(ATTAR ANDIKA – JawaPos.com/RadarKediri)

Saat pertama memasuki pelataran, kita akan disambut dengan kemegahan menara gereja. Selain tingginya yang menjulang, kemegahan dan relief bangunan akan sangat memanjakan mata. Belum lagi jendela-jendela berukuran besar yang ada di kanan-kiri gereja.

Bagi pengunjung yang belum terbiasa masuk, mungkin akan merasa seperti berada di Belanda. Sebab, arsitekturnya sangat kental dengan gaya Eropa masa kolonial. Namun, ini adalah Gereja Merah. Yang lokasinya di Kota Kediri.

“Gereja ini dulunya bernama Kerkeraad der Protestancthe Gemeente te Kediri,” terang Koster Gereja Merah Lorens Hendrik de Jong.

Sambil berkeliling gereja, Hendrik bercerita tentang sejarah Gereja Merah. Bangunan ini tercatat telah ada sejak 21 Desember 1904. Dibangun di atas tanah kosong yang dulunya berada di sebelah pastori. “Dari awal memang sengaja dibangunan sebagai gereja protestan,” ujarnya.

Berdasarkan Prasasti yang berada tepat di sebelah kanan pintu masuk, gereja ini dibangun oleh seorang pendeta Belanda yang bernama J.A. Broers. Sejak pertama berdiri, bentuk bangunan sudah seperti sekarang. Jika pun ada perubahan, dapat dipastikan kurang dari 20 persen.

Hendrik menegaskan bahwa mayoritas fisik luar bangunan masih sama dengan dulu. Mulai dari batu bata merah, relief, dan model bangunan. Namun menurutnya kaca jendelanya sudah diganti. Begitu juga dengan talang air dan genteng. “Gentengnya diganti sekitar tahun 80-an,” terangnya sembari berusaha memutar ingatannya.

Tidak hanya itu, ada juga penampahan plester bangunan agar air tidak meresap ke tembok. Yang bisa menyebabkan temboknya jamuran. Hendrik juga menceritakan kalau dulunya gereja ini lebih panjang ke bawah sekitar satu meter.

“Tapi pada tahun 1993 sudah diurug. Jadinya permukaan tanahnya segini,” paparnya sambil menunjuk batas ketinggian yang ia maksudkan.

Sedangkan untuk pemberian nama menjadi Gereja Merah, diakui oleh Hendrik jika itu semua jutru berasal dari orang luar. Bukan dari pihak gereja sendiri. Alasan historis dibalik pengecatan gereja ini menjadi merah adalah untuk menegaskan dan sebagai perlambangan kalau gereja ini memang dibangun dari batu bata merah. “Selain itu, agar tidak mudah jamuran dan kotor,” ujarnya sembari tertawa.

Keindahan di dalam Gereja Merah tidak kalah dari keindahan luarnya. Namun, tidak seperti bentuk luarnya yang megah, suasana di dalamnya justru terkesan minimalis. Namun terasa nuansa magisnya. Pancaran sinar matahari yang menembus kaca jendela seakan menambah kudus suasana ketika duduk di kursi jati panjang di depan altar.

Menurut Hendrik, mulai dari mimbar gereja hingga ornamen di dalam gereja masih seperti sedia kala. Hanya plafon atau langit-langitnya yang sudah mengalami penggantian. “Kalau aslinya masih dari gedhek (anyaman bambu, Red),” ujarnya.

Gereja Merah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2008. Melalui Surat Keputusan (SK) Trowulan. Lalu pada 2009 turun SK Gubernur Jatim. Setelah sebelumnya pada 2004 saat acara seratus tahun gereja, ada usulan dari internal untuk dilaporkan ke Trowulan. “Pokok dulu itu ada peneliti dari Trowulan berjumlah sembilan orang yang melakukan pengecekan detil bangunan selama dua mingguan,” terang Hendrik.

Sekarang, Gereja Merah telah dikenal luas. Pengunjung dari luar kota juga banyak yang tertarik dengan keindahan gereja ini. Sedangkan untuk jamaah sendiri, menurut Hendrik tercatat ada 135 kepala keluarga (KK). Ditambah 30 KK dari Pos Pelayanan di Blimbing, Tarokan, yang menjadi jamaah di GPIB Immanuel Kediri.

(rk/die/die/JPR)

Source link