Gresik Kendalikan Industri Migas Nasional – Radar Surabaya

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Perwakilan Jawa Bali Nusa (Jabanusa) menyatakan, industri hulu migas di Gresik cukup strategis. Kota Gresik dianggap mampu mengendalikan industri baik hilir maupun penggunanya secara nasional.

“Sebab, semua jaringan SKK Migas seluruhnya berkumpul dengan pusat utama Gresik. Apalagi,  sekarang ada PGN Saka, Pertamina WMO, ini juga akan mengadakan ekaplorasi lagi. Termasuk di PJB di Gresim yang juga mengendalikan seluruh Indonesia,” kata Kepala SKK Migas Perwakilan Jabanusa, Ali Masyhar.

Dijelaskan, dia melihat potensi Gresik itu luar biasa baik dari sisi hulu migasnya. Untuk sisi hilir seperti PLN yang memanfaatkan migas tersebut. Sedangkan, untuk sisi pemakainya seperti Petrokimia Gresik, yang menggunakan untuk prosea produksi. “Saya melihat kalau ekplorasi migasnya dengan penggunanya dekat, maka potensinya akan sangat besar untuk perkembangannya,” jelasnya. Hanya saja, saat ini yang terpenting mencari investor yang tertarik  dengan kegiatan itu.

Menurur Ali, Jawa Timur kini  menjadi lumbung minyak dan gas (Migas).  Buktinya 30 persen dari 800 ribu Barrel of Day (BoD) produksi nasional disumbang dari produksi lapangan migas dari Jatim. Sementara untuk gas pun tak kalah pentingnya, Jatim menyumbang 10 – 12 persen dari total pasokan gas di Tanah Air.

Saat ini ada di wilayah kerja SKK Migas Jabanusa ada 32  perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang beroperasi dan 16 perusahaan KKKS yang sudah berproduksi.

Ompang Reski Hasibuan, mengaku saat ini ada 3 pembangkit listrik PT PJB yang sudah menggunakan gas seluruhnya yakni pembangkit Muara Karang, Pembangkit Muara Tawar serta Unit Pembangkit Gresik. Sementara pembangkit yang lain seperti di kawasan pembangkit listrik Paiton masih menggunakan sistem energi mix dimana jika kebutuhan pasokan listrik tinggi dan membutuhkan produksi yang cepat digunakan mix antara batubara dan gas.

Keberadaan Migas tak hanya dirasakan oleh industri negara tetapi juga pemerintah Kabupaten Gresik yang mengaku sangat terbantu dengan adanya perusahaan migas yang beroperasi di wilayah. tahun 2017, misalnya, dana bagi hasil dari migas untuk Kabupaten Gresik  sekitar Rp 30 miliar.

 Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto menyatakan meski industri migas di Gresik ini cukup besar. Namun, sampai kini kontribusi terhadap pemerintah daerah belum ada. Karena, hasil industri migas masih dikondisikan oleh pemerintah pusat. “Kami berharap ini bisa diatur lagi oleh pemerintah pusat maupun provinsi. Karena wilayah yang menjadi ekspoitasi adalah Gresik, maka sudah seharusnya ada kontribusi terhadap kabupaten,” kata Sambari. (han/ris)

(sb/han/ris/JPR)