gumuk pasir, pantai, pantai parangtritis, wisata, pariwisata, – Radar Jogja

Pria berusia 44 tahun ini menyadari betul bahwa zona inti Gumuk Pasir harus steril. Tak boleh ditanami dengan tanaman bunga sekalipun. Kendati begitu, Tumarja meminta pemerintah menunjukkan alasan pelarangannya. Toh, pelaku wisata di area konservasi tersebut tak melakukan perusakan. Sebaliknya, justru memperindah.
”Kalau tidak boleh harus diberikan solusi. Kami mau dapat penghasilan dari mana?,” ucapnya mengklaim bahwa pedukuhan tidak melarang penanaman taman bunga.

Sebagaimana diketahui, pemprov dan pemkab melakukan penertiban puluhan bangunan di sekitar zona inti Gumuk Pasir akhir 2016 lalu. Salah satu tujuannya adalah untuk mendukung program restorasi Gumuk Pasir. Mengingat, keberadaan puluhan bangunan semi permanen ini dapat mengganggu pembentukan barchan (gundukan pasir) di Gumuk Pasir. Sementara pasir tersebut berasal dari pantai yang terbawa angin.

Tumarja menceritakan, kondisi Gumuk Pasir dulu sangat berbeda. Tidak sedikit gundukan pasir di area zona inti. Saking banyaknya, sebagian lahan pertanian milik warga tertutupi pasir. Melihat kondisi ini, pemerintah desa bekerja sama dengan pemkab dan Universitas Gajah Mada menanam pepohonan cemara di pinggir pantai.
”Setelah pepohonan tinggi tidak ada lagi bencana pasir,” tuturnya.
Staf Peneliti Parangtritis Geomaritime Science Park Dharma Putra menyebut ada tiga zona di Gumuk Pasir. Yakni, zona inti seluas 141 hektare, zona terbatas seluas 90 hektare, dan zona penunjang seluas 210 hektare. Kendati begitu, Dharma menyampaikan bahwa zonasi belum memiliki kekuatan hukum.
”Masih sebatas rekomendasi dari UGM,” bebernya.

Terkait keberadaan taman bunga di zona inti, Dharma menegaskan dilarang. Sebab, keberadaan taman bunga ini dapat mengganggu pembentukan barchan. Namun, Dharma berpendapat penertiban berbagai vegetasi yang notabene ditanam pelaku wisata tidak gampang. Ada beberapa kelompok pelaku wisata di kawasan Gumuk Pasir yang menggantungkan hidupnya.
”Sebaiknya pengelolaan pariwisata satu pintu saja,” sarannya.
Lalu, siapa pengelola Gumuk Pasir sebenarnya? Dharma menyebut melibatkan tiga unsur. Yakni, pemprov, pemkab, dan pemerintah desa. Karena itu, Dharma menyarankan masyarakat melapor ke Dinas Lingkungan Hidup DIJ bila ada menemukan aktivitas yang merusak Gumuk Pasir. 

(rj/jpr/ong/JPR)

Source link