Gunung Agung Erupsi Lagi, Abu Vulkani Mengarah ke Timur Laut – Bali Express

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana mengatakan, erupsi yang terjadi merupakan erupsi magmatik. “Dan hujan abu diperkirakan terjadi disekitar puncak Gunung Agung,” ujarnya.

Mengenai adanya hujan pasir, Devy mengatakan pihaknya sudah turun ke lapangan untuk mengambil sampel, dan sejauh ini pihaknya memverifikasi itu adalah abu karna ukurannya yang di bawah 2 mm. Namun pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai material erupsi tersebut agar dapat mengetahui apakah erupsi yang terjadi tetap sama atau mengalami evolusi atau perubahan fase.

“Tadi yang kita periksa masih di Tulamben di luar 10 kilometer dimana abu di sana tipis, ada juga yang ke Dukuh tetapi saya belum dapat laporannya,” ungkapnya.

Sedangkan menurut informasi di lapangan, selain hujan abu di wilayah Tulamben, juga terjadi hujan lapili di Dukuh. “Kalau abu itu ukurannya kurang dari 2 mm, lapili 2 sampai 64 mm, dan bom di atas 64 mm,” tandas Devy.

Sementara mengenai kandungan gas magmatik dari kawah Gunung Agung, ia mengatakan saat ini masih tercatat kandungan SO2 sekitar 600 ton per hari. Yang artinya masih ada pergerakan magma ke permukaan kawah.

Dan pasca mengalami erupsi, secara visual sejak pukul 12.00 hingga 18.00 tidak teramati asap dari kawah Gunung Agung. Namun masih terekam kegempaan hembusan 7 kali amplitudo 3 – 8 mm durasi 22-45 detik, vulkanik dangkal 1 kali amplitudo 3 mm durasi 10 detik dan tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm). Menurut Devy hal itu merupakan hal wajar, setelah energi keluar dalam erupsi maka kegempaan cenderung menurun. “Pasca erupsi aktifitas relatif tenang jika dilihat secara kegempaan, tetapi kita masih merekam masih aktifitas dalam tubuh Gunung Agung dan masih kita pantau,” lanjutnya.

Saat ditanya apakah erupsi yang terus terjadi akan membuat energi Gunung Agung terus berkurang dan tidak akan meletus separti tahun 1963 lalu? Devy mengatakan jika dilihat dari kumulatif magnitude kegempaan dari bulan Agustus hingga Desember, memang energi masih kurang untuk bisa menghasilkan erupsi seperti tahun 1963. “Potensi ke arah sana belum bisa kita pastikan, tetapi gunung kan dinamis belum bisa kita tentukan apakah letusannya VEI 5 sehingga saat ini kita tetapkan di VEI 3,” katanya.

Sebelumnya Sabtu (23/12) pukul 11.57 wita, Gunung Agung juga mengalami erupsi dengan asap kelabu tebal dengan tinggi 2.000 hingga 2.500 meter yang condong ke timur laut. Hujan abu disertai pasir tipis terjadi di sekitar lereng Gunung Agung, seperti di Tulamben, Kubu.

(bx/ras/yes/JPR)

Source link